3 Cara Mendidik Anak Sukses Dunia-Akhirat

Setiap orang tua menginginkan anaknya sukses dunia-akhirat. Segala upaya dilakukan untuk merancang masa depan anak. Melalui keluarga anak belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Melalui keluarga anak memulai perjalanan hidupnya.

Orang tua adalah figur sentral dalam mendidikan anak. Pendidikan bukan hanya melalui jalur formal sekolah yang membuat kita tahu banyak hal. Pendidikan juga bukan hanya melalui jalur informal seperti kursus dan pelatihan yang membuat kita memiliki keahlian.

Pendidikan adalah proses mengembangkan potensi diri sesuai dengan fitrah-Nya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang. Pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan tujuan dihadirkan-Nya manusia di muka bumi.

Tidak ada seorang bapak yang senang anaknya pintar namun suka berbohong. Tidak ada seorang ibu yang bangga anaknya kaya namun sering menyakiti orang lain. Orang tua bangga jika anaknya memiliki karakter positif, bermanfaat bagi banyak orang dan sukses dunia-akhirat.

Bagaimana mendidik anak?

Pertama, orang tua harus memahami bahwa hakikat diri adalah diri yang ruhani dengan pusatnya qalbu. Melihat anak bukan hanya dari sudut fisik atau biologis. Lebih jauh, anak adalah titipan Allah yang dihadirkan melalui orang tua untuk menjadi pemimpin.

Pandangan ini perlu diajarkan kepada anak sedari kecil agar terbiasa dengan karakter spiritual atau ruhaniah. Inilah awal pendidikan di keluarga.

Kedua, menemukan sifat-sifat Allah yang dominan ada dalam diri anak. Ruh kita berasal dari-Nya, di dalamnya sudah ada sifat-sifat Allah yang ditanamkan ke dalam qalbu setiap manusia. Temukan peran apa yang harus dijalani, lalu kembangkan dengan serius.

Cara paling mudah adalah menemukan aktivitas yang membuat kita senang atau bahagia. Apa yang menjadi hobi kita? Apa yang membuat kita rela menghabiskan waktu berlama-lama mengerjakan sesuatu, tanpa ada apresiasi, meskipun banyak orang yang mempertanyakannya.

Ketiga, mengombinasikan ilmu dan kebebasan secara proporsional. Ada dua modal dasar yang diberikan Allah kepada manusia. Ilmu dan kebebasan. Ilmu membuat kita tahu akan banyak hal. Kebebasan membuat kita kreatif. Jika keduanya bisa dipadukan secara proporsional akan terjadi ledakan karya yang luar biasa.

Orang tua berperan menjadi fasilitator tumbuh kembang anak. Setelah menanamkan pemahaman spiritualitas bahwa hakikat diri setiap manusia adalah ruh, orang tua membantu menemukan apa potensi anak yang perlu dikembangkan.

Arahkan anak untuk fokus mengembangkan potensi dirinya. Bekali dengan berbagai ilmu penunjang, berikan kebebasan yang proporsional sesuai dengan perkembangan usia dan pemahaman. Insya Allah harapan anak yang sukses dunia dan akhirat bisa terwujud.

Orang tua dan anak berikhtiar, Allah yang menentukan. Kunci menerima dengan ikhlas apa yang terjadi adalah dengan dzikrullah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Maka, untuk menjadi orang tua yang baik, mampu mendidik anak sesuai dengan fitrah-Nya, dan mendampingi proses belajar yang diridhai-Nya, bekal paling awal adalah dzikrullah.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...