3 Ketrampilan yang Dibutuhkan Ikhwan TQN

Bertarekat bukan hanya membangun ketaqwaan dengan berbagai macam ibadah ritual. Lebih dari itu, berjuang menegakkan keadilan sosial. Keadilan untuk diri pribadi juga keadilan untuk umat dan masyarakat.

Kiai Wahfiudin mengatakan, dua faktor paling mendasar dari keadilan adalah ekonomi dan politik. “Maka tidak bisa tidak, kita harus terlibat dalam aktivitas ekonomi dan politik,” tegas wakil talqin Abah Anom tersebut.

Dalam diskusi pengembangan ekonomi Islam yang diselenggarakan TQN Center Jakarta pada Rabu (16/12), Kiai Wahfiudin meyakini umat Islam, khususnya kelompok tarekat memiliki peran besar mengembangkan perekonomian bangsa.

“Sumber kekuasaan tertinggi adalah kapital (ekonomi). Oligarki global dan regional berangkat dari sana. Apakah umat Islam punya kemampuan mengubah nasibnya dengan bermula dari ekonomi?” ujarnya memulai diskusi dengan sebuah pertanyaan.

Menurutnya Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, sudah seharusnya mampu memberdayakannya untuk kemakmuran rakyat. Saat ini, bicara SDA harus bergandengan dengan pengembangan lingkungan. Tidak bisa tidak, isu lingkungan telah menjadi faktor penting dalam perekonomian.

Bicara pengelolaan SDA membutuhkan individu-individu yang memiliki keahlian entrepreneurship. Merekalah yang menjadi lokomotif pergerakan ekonomi umat. Melalui ikhtiar para pelaku usaha, harapan terwujudnya kejayaan Islam semakin terang.

Aktivitas ekonomi bisa juga dikembangkan melalui pengelolaan dana sosial, kerap disebut Islamic Social Fund (ISF) seperti zakat, wakaf dan mawarits (warisan).

“Semoga tiga hal di atas mendapat porsi perhatian besar dari para aktivis dakwah TQN,” harap Kiai Wahfiudin yang juga pembina Yayasan Aqabah Sejahtera.

Dalam implementasinya ISF jangan terpaku pada aspek fiqh-nya saja, tetapi pada Engineering dan Management pemberdayaannya.

Setidaknya ada 3 komponen engineering menurut Kiai Wahfiudin.

a. Iptek, Pengalaman, Fiqh.
b. Penciptaan desain baru pada obyek dan proses.
c. Solusi bagi masalah.

Bisa didefinisikan, engineering adalah pemanfaatan iptek, pengalaman, dan hukum untuk menciptakan desain-desain baru berupa obyek-obyek dan proses-proses guna menyelesaikan problem hidup manusia.

“Intinya ada pada penciptaan desain-desain baru,” terang Kiai Wahfi menambahkan.

Obyek dapat berupa bangunan, mesin, peralatan, produk, aplikasi, gadget. Sementara proses dapat berupa kebijakan, sistem operasi dan prosedur, metode, pelatihan.

TQN perlu memperbanyak program-program yang mengarah ke keahlian menerjemahkan nilai-nilai sufistik menjadi produk yang implementatif.

Nilai-nilai agama bersifat esensial, ideal dan teoritis. Sebagai prinsip-prinsip dasar yang normatif. Sementara engineering dan management  sesuatu yang teknis prosedural, praktis operasional, terurai rinci dan tuntas.

Menurut Kiai Wahfi pendidikan dan dakwah ke-Islaman perlu lebih menekankan dimensi engineering & management dari ajaran agama, bermula dari berfikir kritis.

“Tidak berhenti pada penghafalan norma-norma keagamaan yang sloganistik.”

Di ujung paparan Kiai Wahfi berpesan agar komunitas tarekat selain tekun pada amaliyah riyadhiyah ruhaniyah hendaknya juga aktif mengembangkan 3 ketrampilan yang dibutuhkan saat ini.

Pertama, ketrampilan engineering dan manajemen pengelolaan Sumber Daya Alama dan Lingkungan. Kedua, keterampilan Entrepreneurship. Sedangkan yang terakhir adalah ketrampilan mengembangkan ISF (Zakat, Waqf, Mawarits).

Rekomendasi
Komentar
Loading...