4 Esensi Tasawuf Yang Perlu Kamu Ketahui

Para ulama memang berbeda pendapat dalam mendefinisikan tasawuf dan menyifatinya. Ada lebih dari seribu definisi oleh al Hafidz Abu Nuaim Al Asfihani dalam kitab Hilyatul Auliya.

Banyaknya definisi tasawuf menunjukkan kemuliaan dan tingginya kedudukan ilmu tersebut. Namun dari segi esensi, menurut Syekh Abdul Qadir Isa dalam karyanya Haqaiq ‘an at Tasawuf, ada empat hal yang biasa tercakup dalam tasawuf.

Pertama, Penyucian Diri تزكية النفس

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ –

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), (Al A’la: 14).

Orang yang bertasawuf selalu menyucikan diri dari aneka sifat buruk dan akhlak yang hina.

Kedua, Bersihnya Qalbu صفاء القلوب

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ – اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (As Syu’ara: 88-89)
Qalbu yang bersih artinya bersih dari syirik, kemunafikan, kesombongan, kedengkian dan aneka penyakit qalbu lainnya.

Ketiga, Perbaikan Akhlak إصلاح الأخلاق

Sebagaimana misi utama Rasulullah Saw ialah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sehingga sebagian al ‘Arifin berkata:

التصوف كله أخلاق فمن زاد عليك بالأخلاق زاد عليك بالتصوف

Tasawuf keseluruhannya adalah akhlak. Siapa yang bertambah baik akhlaknya, berarti bertambah tasawufnya.

Dari sini, tolok ukur seseorang itu sudah bertasawuf atau belum dilihat dari akhlaknya. Bagaimana akhlaknya kepada Allah, kepada Rasulullah kepada orang tua, keluarga, sesama, lingkungan bahkan akhlak terhadap dirinya sendiri.

Keempat, Mencapai Maqam Ihsan وصول إلى مرتبة الإحسان

Tasawuf lahir sebagai implementasi dari salah satu rukun agama yang bernama ihsan sebagaimana dalam hadis Jibril.

مَا الْإِحْسَانُ ؟ قَالَ : ” أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Apa itu Ihsan? Nabi menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, maka jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sungguh Dia melihatmu (HR. Bukhari).

Ihsan dalam setiap aktivitas dan perbuatan. Sehingga segala aktivitas kita selalu melihat Allah dengan hati nurani atau pun merasakan kehadiran Allah di dalam qalbu.

Dari segi substansi tujuan, tasawuf saling melengkapi dengan fiqih dan tauhid. Menurut Syekh Ahmad Zarruq dalam Qawaid at Tasawuf, tauhid itu untuk memperteguh iman dengan bukti-bukti, fiqih untuk membenahi amal ibadah sesuai ketentuan hukum. Sedangkan tasawuf bertujuan untuk membenahi qalbu dan mengosongkan qalbunya dari selain Allah Swt. Sehingga dalam beragama, tiga ilmu pokok yang perlu dipelajari ialah ilmu tasawuf, tauhid dan fiqih.

Rekomendasi
Komentar
Loading...