4 Kiat Beradaptasi Dengan ‘New Normal’

Sampai saat ini belum ada pernyataan ahli yang meyakinkan kita, sampai kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Bahkan ada ahli yang menyatakan sebelum ditemukan vaksin, diperkirakan pandemi Covid-19 akan berlangsung sampai tahun 2021 bahkan tahun 2022.

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo menegaskan masyarakat harus bisa berkompromi, hidup berdampingan, dan berdamai dengan Covid-19 agar tetap produktif. Pemerintah akan mengatur agar kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan normal. Jokowi menyebutnya dengan istilah new normal.

Pandemi Covid-19 berdampak terhadap kehidupan umat manusia seperti kesehatan, ekonomi, pendidikan. Di sisi lain kita harus tetap menjalankan berbagai aktivitas seperti bekerja, belajar, dan berinterkasi meskipun dari rumah. Berubahnya aktivitas masyarakat membuat industri pariwisata, transportasi, otomotif menurun tajam.

Seiring berjalannya waktu, tinggal di rumah tidak bisa selamanya diterapkan untuk menjaga keseimbangan perekonomian. Di sini lah, pola hidup baru atau new normal akan diimpelentasikan. Tentu dengan tetap mengacu kepada protokol kesehatan.

Apa sebenarnya new normal itu? Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya Covid-19.

Pandemi membuat kita harus beradaptasi dengan kenormalan baru. Bagi banyak orang, ini menjadi tantangan besar karena proses adaptasi tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Melansir laman Cleveland yang dikutif dalam Gridhealth, ada empat hal yang harus kita lakukan agar dapat beradaptasi dengan rutinitas baru.

1. Berdamai dengan keadaan

Psikolog klinis Adam Borland, mengatakan bagian terpenting agar sukses beradaptasi dengan new normal adalah menerima kenyataan bahwa hal ini juga baru bagi semua orang. Meski ada rasa kecewa atau frustasi, Borland menyarankan agar tetap berusaha melewati proses adaptasi dengan mempertahankan rutinitas harian.

“Ada banyak hal di luar kendali namun kita harus bisa mempertahankan rutinitas harian, seperti mengerjakan tugas-tugas yang bisa kita selesaikan untuk mendapatkan pencapaian nyata,” ucapnya.

2. Jaga komunikasi dengan orang lain

Di tengah situasi saat ini, Borland menyarankan agar tetap terhubung dengan orang lain. Untuk mengatasi emosi negatif, perasaan terisolasi dan kesepian cobalah mengomunikasikannya kepada teman atau keluarga. Cara ini akan membantu kita agar tidak lagi merasa sendiri.

Hal yang sama juga berlaku dalam dunia kerja. Menjaga performa kerja dengan berkomunikasi yang lancar kepada atasan dan rekan kerja. Kita bisa mendiskusikan dan mencari solusi dari hambatan-hambatan pekerjaan yang dialami.

3. Pertahankan keseimbangan emosi

Memang sulit menyeimbangkan emosi ketika harus beradaptasi dengan situasi baru. Namun, keseimbangan emosi sangat diperlukan agar tetap tenang di tengah situasi yang penuh dengan ketidakpastian. Keseimbangan emosi ikut menentukan kesehatan fisik.

Untuk mencapai keseimbangan emosi, yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi perasaan tanpa melakukan penghakiman. “Tak masalah jika kita merasa sedih, kecewa dan marah. Yang kita lakukan adalah menerima perasaan itu tanpa ada penyesalan atau menyalahkan diri sendiri,” ucap Borland.

4. Fokus pada masa kini

Situasi pandemi membuat kita selalu membayangkan hal buruk akan masa depan dan menyesali apa yang seharusnya kita lakukan di masa lalu. Tidak sedikit orang yang sulit untuk fokus pada masa kini karena memiliki spekulasi dan ketakutan tentang apa yang akan terjadi di hari esok. Daripada cemas dan risau akan apa yang akan terjadi, lebih baik kita fokus melakukan hal-hal positif yang bisa dilakukan pada saat ini.

Semoga empat kiat di atas bermanfaat untuk beradaptasi dalam kenormalan baru. Seperti dikatakan Darwin, “Makhluk yang akan bertahan di muka bumi ini bukanlah makhluk yang paling kuat, paling besar, atau paling kaya tetapi makhluk yang bisa beradaptasi dengan perubahan”.

(Oyib Sulaeman, M.Si., Fakultas Tarbiyah IAILM Suryalaya)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...