5 Hal Yang Bisa Menguras Energi dan Waktu

Di antara pelajaran penting yang dipetik dari Imam Syafi’i melalui ulama sufi ialah waktu bagaikan pedang, jika tidak kau putus, dia yang akan memutusmu. Dan dirimu jika tidak disibukkan dengan kebenaran, pasti sedang sibuk dengan kebatilan.

Menyangkut hal ini, nabi bersabda, “Baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadis tersebut bicara tentang betapa pentingnya meninggalkan sesuatu yang tidak berfaedah, tidak perlu dan tidak mendapat ridha Allah Swt. Seorang muslim yang baik ialah dia yang mampu berpikir, berucap dan bersikap dalam skala prioritas.

Artinya, waktu dan energi yang ada perlu didayagunakan untuk hal yang memang prioritas. Dengan demikian, efektivitas dan efisiensi mendapat porsi yang serius dalam Islam.

Namun dalam kehidupan ada saja hal-hal yang bisa jadi sederhana, tapi bikin umur terbuang percuma. Apa saja? Berikut 5 hal yang bisa menguras waktu dan energi Anda:

Mengeluh
Menghadapi aneka permasalahan, wajar manusia mengeluh. Namun jika waktu diisi hanya dengan keluhan hingga mengabaikan yang harusnya dilakukan justru akan membuat hidup kian sulit.

Selain itu dampak buruk suka mengeluh juga bisa menghambat produktivitas, di antaranya jadi gampang bad mood, energi terkuras alias gampang Lelah, stress bertambah, hingga daya tahan tubuh yang berkurang. (Foto: FreePik)

Menyesali Masa Lalu
Manusia itu ada saat lemah, khilaf, lalai, hingga salah ambil keputusan yang berujung pada penyesalan. Alih alih terus menyesali diri, sebaiknya jadikan ia pelajaran dan ingat pelajarannya. Jangan karena menyesal lalu terjebak pada rasa kecewa dan sakitnya saja dan lupa apa hikmahnya.

Buruknya suka menyesali masa lalu ialah bisa mengundang kesedihan yang berlarut larut, kecewa, hingga menumpuk amarah. Sebaiknya maafkan diri dan bangkit menyambut masa depan yang masih suci. Karena kita tidak bisa mengubah masa lalu. Inilah pentingnya percaya akan takdir Tuhan dan terus memperbaiki diri lebih baik. (Foto: FreePik)

Lari dari Masalah
Ada yang dengan masalahnya dia jadi lebih kuat, lebih smart, dan lebih dewasa serta lebih dekat kepada Allah. Itu karena ia ikhlas menghadapinya dengan selalu bergantung pada-Nya.

Yang harus dihindari ialah lari dari masalah, karena hal itu berdampak buruk bagi pelakunya. Mulai dari menambah beban pikiran, mudah ketakutan, sulit dewasa sampai menambah masalah baru. (Foto: FreePik)

Mengubah Orang Lain
Salah seorang sufi kenamaan Jalaluddin Rumi mengatakan, “kemarin aku menjadi pintar, aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku menjadi bijak, aku ingin mengubah diriku sendiri”.

Apa yang disampaikan beliau tepat sekali. Usaha untuk mengubah orang lain tidak akan diperoleh kecuali orang tersebut mau mengubahnya. Sebab kita tidak sedang memiliki kendali atas orang lain, dan setiap orang bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Jadi pesannya, jangan habiskan waktu untuk mengubah orang lain yang tidak mau berubah. Meski pun niatnya baik, tapi itu akan menghabiskan waktu. (Foto: FreePik)

Mengejar Kesempurnaan
Meraih hasil optimal jadi dambaan setiap orang. Namun tak melulu yang dikerjakan meraih hasil yang diharapkan. Dalam Islam, berusaha secara optimal mesti diiringi oleh sikap mental berserah diri pada Allah Swt baik di awal maupun usai mengerjakan. Dari sini lahir istilah ikhtiar dan tawakkal.

Oleh karena itu jangan selalu mengejar kesempurnaan karena bisa berdampak buruk di antaranya, sedih dan kecewa, membanding-bandingkan dengan orang lain, tidak pernah merasa cukup, lelah hingga banyak peluang yang hilang. Maka nikmatilah proses sambil berusaha optimal serta selalu merasa cukup (qana’ah). Karena qana’ah itu adalah gudang yang tidak pernah kering alias kekayaan sejati. (Foto: FreePik)

Rekomendasi
Komentar
Loading...