5 Ulama Besar Ini, Tidak Bisa Baca dan Tulis

Para ulama dari dulu sampai sekarang identik dengan kegiatan membaca dan menulis. Dengan membaca mereka menimba, dengan menulis mereka membagi ilmu dan pengetahuan. Karya tulis membesarkan nama mereka sepanjang zaman.

Tapi, ternyata tidak semua ulama besar atau intelektual Muslim menempuh jalan yang sama. Tidak semua mereka bisa baca dan tulis. Mereka menempuh jalan khusus, yaitu dengan mendengar dan menghafalkan.

Itulah jalan khusus yang diberikan oleh Allah Swt. Meski tidak umum, tapi tidak ada yang tak mungkin jika Allah menghendaki. Ini menunjukkan bahwa ada jalur-jalur lain, yang mungkin saja tidak umum, yang bisa ditempuh seseorang untuk menjadi seorang ulama.

Di masa Nabi Saw orang yang tidak bisa baca tulis disebut dengan ummi, sebuah kata yang merujuk pada makna ibu. Ini karena seorang ummi seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya.

Nabi Saw sendiri adalah seorang ummi, tidak bisa baca tulis. Tapi ummi-nya Nabi Saw adalah mukjizat, agar orang-orang tidak mengira bahwa Alquran itu karangan beliau, tapi merupakan firman Allah Swt.

Namun begitu, ada juga ulama yang berpendapat bahwa seorang ummi di masa Nabi Saw bukan berarti orang bodoh. Sebab dalam tradisi orang-orang Arab waktu itu, kecerdasan seseorang ditunjukkan dengan kekuatan menghafal. Sebab bisa jadi, intelektual zaman itu bukanlah orang yang pandai baca tulis, tapi yang kuat hafalannya.

Lalu, siapakah tokoh ulama besar yang tidak bisa membaca dan menulis? Mengutip Sanad Media, seorang penulis bernama Athiyyah Abu al-‘Ila menulis sebuah kitab berjudul ‘Ulama al-Umiyyun.

Dalam buku itu, ia menuliskan 130 tokoh dari kalangan ulama maupun tokoh lainnya, yang tidak diberikan kemampuan membaca dan menulis, namun mereka mempunyai pengaruh yang besar di berbagai macam kalangan. Mereka di antaranya adalah:

1. Syekh Daud al-Kabir bin Makhela

Syekh Daud merupakan guru dari Syekh Muhammad Wafa Asy-Syadzili. Ia pernah menjabat sebagai penasihat gubernur di Alexandria. Ia selalu memiliki isyarat khusus untuk gubernur tentang orang yang harus dicurigai atau tidak.

Syekh Daud merupakan seorang ummi, ia tidak bisa membaca dan menulis. Meski begitu, ia memiliki kalam-kalam sufistik yang sarat makna.

Syekh Sya’rani dalam biografinya, menuliskan kalam-kalam sufistik tersebut, antara lain:

“Hati yang senantiasa terpaut kepada Allah merupakan kebaikan yang diharapkan tidak akan rusak dengan dosa apapun. Sedangkan hati yang berpaling dari Allah merupakan kesalahan yang hampir tidak bisa bermanfaat dengannya kebaikan apapun.”

2. Syekh Ali al-Khawwas

Syekh Ali al-Khawwas ((W. 939 H) adalah seorang wali di Mesir. Ia merupakan guru dari Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani.

Syekh Ali al-Khawwas juga merupakan ulama besar yang tak bisa membaca dan menulis.

Kitab Thabaqat karangan imam Al-Munawi menyebutnya sebagai “Seorang ummi yang terkenal di antara orang-orang khas dengan sebutan al-Khawwas.”

Keterangan bahwa Syekh Ali tidak bisa baca tulis juga disebutkan oleh muridnya sendiri, Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani. Ia mengatakan dalam kitab Lawafih, “Guruku, Syekh Ali adalah sosok guru yang tidak bisa membaca dan menulis.”

Dalam kitab ini, Syekh Sya’rani juga mengakui banyak budi pekerti luhur yang ia lihat dari sosok Syekh Ali Al-Khawwas. Di antaranya, walaupun tidak bisa baca tulis, beliau dapat berbicara tentang makna-makna Alquran dan hadits dengan sangat rinci. Dengan begitu, para ulama di zamannya dibuat takjub dan terheran-heran dengan keilmuannya.

Keilmuan Syekh Ali juga diakui oleh para ulama lain di zamannya. Misalnya, Syekh al-Futuhi yang mengatakan, “Saya sudah berkhidmat dengan ilmu selama 70 tahun, dan saya tidak pernah sekalipun terlintas di otak saya ilmu-ilmu yang tertera pada kitab Al-Jawahir wa ad-Durar.”

Kitab al-Jawahir ini merupakan kitab yang ditulis oleh Syekh Sya’rani yang berisi pelajaran-pelajaran yang beliau dapat dari Syekh Ali.

Meski tinggi ilmu yang dimiliki Syekh Ali, ia adalah orang yang sangat rendah hati. Salah satu kebiasaannya adalah menyapu emperan masjid serta mengisi tempat air minum untuk anjing-anjing di pinggir jalan.

3. Syekh Syihabuddin Ahmad bin Abi Thalib

Meskipun seorang ummi, kitab ad-Durar al-Kaminah karya Ibnu Hajar al-Atsqolani, menyebutkan bahwa Syekh Syihabuddin Ahmad bin Abi Thalib dengan julukan Musnid Dunya.

Gelar ini merupakan sebuah bentuk kehormatan bagi seorang ulama yang sudah menguasai sanad dari berbagai negara serta kedalaman ilmu haditsnya baik riwayah maupun dirayah.

Ia pernah diundang ke Kairo untuk membacakan hadits. Menurut Imam az-Zahabi, Syekh Ahmad bin Abi Thalib adalah pemilik sanad yang tertinggi. Sebab pada zamannya, hanya ialah yang mendengar hadits dari al-Husain az-Zabidi.

Syekh Ahmad bin Abi Thalib wafat di Damaskus pada 25 Safar 730 H di usia 100 tahun lebih dan dimakamkan di samping Masjid al-Afram.

4. Syekh Sulaiman al-Jamal al-Mishri

Syekh Sulaiman al-Mishri (W. 1204) terkenal dengan hasyiah-nya atas kitab Tafsir al-Jalalain dan hasyiah atas kitab Syarah Al-Manhaj.

Dalam sebuah biografi yang ditulis Ibnu Abdissalam, dalam kitab “Rihlah al-Kubra”, dinyatakan bahwa Syekh Sulaiman merupakan bentuk kuasa Allah yang terlihat nyata di depan mata.

Ia hidup di tengah lingkungan terpelajar, tapi tidak bisa membaca dan menulis. Kebiasaannya adalah mencari orang yang membacakan kepadanya kitab yang ingin ia pelajari.

Ketika kitab dibacakan, maka secara otomatis semua yang disebutkan itu langsung dihafalnya. Demikian pula ketika ingin mengajar, sebelum datang ke kelas, ia meminta seseorang untuk membacakan kitab-kitab yang diperlukan, kemudian ia hafal, lalu ia sampaikan kepada para muridnya.

5. Syekh Muhammad Wafa Asy-Syadzili

Syekh Muhammad Wafa Asy-Syadzili (W. 765 H) adalah murid Syekh Daud al-Kabir. Nama lengkapnya, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad. Ia bermazhab Maliki dan bertarekat Syadziliyah.

Lahir dan besar di Alexandria, Mesir. Ia belajar dengan gurunya Syekh Daud, kemudian pindah ke Kairo, tepatnya di wilayah Raudhah di sisi sungai Nil.

Meski dikenal sebagai seorang penasehat atau motivator seperti di zaman sekarang, dalam satu riwayat dikatakan ia tidak bisa membaca dan menulis.

Namun, ia memiliki banyak karangan tertulis dalam bentuk manuskrip dan belum tercetak. Karangan ini murni karyanya yang didiktekan dan ditulis oleh muridnya. Antara lain, kitab Nafais al-‘Irfan dan kitab Al-‘Arus.

Itulah di antara para tokoh besar yang mendapatkan kelebihan dari Allah Swt. Mendapatkan jalur khusus untuk menjadi seorang ulama terkemuka tanpa harus bisa membaca dan menulis.

Ini membuktikan, bahwa ilmu dan pengetahuan kepada manusia adalah anugerah dari Allah Swt. yang bisa didapat dengan banyak cara. Wallahu A’lam.

Rekomendasi
Komentar
Loading...