63 Tahun Usia Tanbih, Pak Guru Zuki: Banyak Rahasia Tanbih yang Perlu Direnungi

Kedah – Besok Rabu (13/2) adalah 63 tahun usia tanbih setelah ditandatangani oleh Pangersa Abah Anom. Tanbih sebagai pedoman hidup ikhwan dan akhwat TQN Pontren Suryalaya memiliki nilai-nilai yang masih relevan hingga saat ini dan menjadi solusi kehidupan.

H. Mohd. Zuki As Syuja’ bin Syafei mengajak murid-murid Pangersa Abah mensyukuri  pesan-pesan yang ada di tanbih. “Mari sejenak kita bersyukur. Sudah pasti banyak rahasia yang perlu direnungi,” ujar wakil talqin yang akrab disapa Pak Guru Zuki.

Berikut renungan tanbih dari Pak Guru Zuki yang disampaikan kepada redaksi melalui pesan singkat:

Pak Guru Zuki dan Ayahanda Tun Sakaran Dandai. Foto: IG TQN Sabah

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Besok, adalah hari Rabu tanggal 13 Februari 2019. Tanbih yang ditandatangai oleh Abah Anom pada 13 Februari 1956 genap berusia 63 tahun.

Tanbih sudah diamalkan dari zaman Abah Sepuh. Tanbih diamalkan sewaktu Abah Sepuh keluar dari tahanan Belanda. Di dalam tanbih mengingatkan lika-liku perjuangan beliau baik yang tertulis maupun tersirat. Isi kandungannya merupakan bagian dari perjuangan Abah Sepuh. Maka keluarlah kata-kata yang berupa doa, nasihat dan jaminan.

Tanbih merupakan wasiat Abah Sepuh untuk murid-murid sebagai pengamal tasawuf dan tarekat. Tanbih juga sebagai pegangan, petunjuk, pedoman agar kita bisa lebih mengawasi diri, menjaga persatuan dan kesatuan, demi terlaksananya visi dan misi Pontren Suryalaya yang berlandaskan agama dan negara. Merujuk kepada ketawadhuannya seorang hamba dalam memimpin umat dalam mencari kebenaran yang hakiki dan mendapat ridhaNya.

Abah Sepuh dan Abah Anom. Foto: TQNNews

Tanbih bisa diartikan seperti buah kelapa. Di dalam kulit ada isinya, di dalam isi ada airnya, di dalam air ada santannya, di dalam santan ada minyaknya dan di dalam minyak ada patinya. Di dalam pati itulah tersirat rahasianya. Itulah perjuangan Abah Sepuh.

Kalau direnungkan satu persatu rahasia perjuangan Abah Sepuh memang sukar dibongkar. Namun berhasil dibongkar oleh putranya yang meneruskan perjuangan beliau, yaitu Syekh Ahmad Shahibul Wafa Tajul Arifin.

Buah dari perjuangan Abah Sepuh dan Abah Anom sudah dirasakan banyak orang. Terbangnya tanbih dengan bentuk seekor kupu-kupu yang menuju dan masuk ke dalam qalbu manusia. Para ulama tidak bisa melepas kupu-kupu yang hinggap di qalbunya. Malah mereka merasakan keindahan dan kenyamanan.

Akhirnya dari hinggapnya kupu-kupu itu ke qalbu manusia, lahirlah sebuah pedoman yang disebut syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat. Itulah perjuangan Abah Sepuh dan Abah Anom. Itulah tanbih.

Mari kita renungi, kita hayati dan kita rasai dengan penuh hidmat perjuangan guru mursyid kita, Abah Sepuh dan Abah Anom. Semoga kita semua para ikhwan TQN Pontren Suryalaya dapat merasakan betapa mulianya tanbih dalam kehidupan kita.

Insya Allah, semoga Allah SWT mempermudah urusan kita baik yang berhubungan dengan dunia maupun yang berhubungan langsung dengan akhirat.

Pak Guru Zuki dan Umi. Foto: IG TQN Sabah

Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf atas segala kekhilafan dan kelemahan. Sekali lagi, Aamiin.

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

(Idn)

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...