Abah Anom, Gelar Profesor dan Keteladanan Nabi Muhammad Saw

Sekitar 40 tahun lalu atau tepatnya 31 Oktober 1980, Bandung Pos pernah mengutip ucapan Abah Anom yang selalu disampaikan dalam pidato atau sambutan kepada seluruh masyarakat.

“Kemajuan dunia tidak mungkin dicapai tanpa adanya bekal untuk kehidupan akhirat; dan sebaliknya kebahagiaan akhirat tidak mungkin dicapai, kalau kehidupan dunia diabaikan. Kedua-duanya harus berjalan seimbang.”

Ungkapan Syeikh Ahmad Shahibul Wafa Tajul Arifin ini sejalan dengan petunjuk Al Qur’an yang termaktub dalam surah al Qashas ayat 77.

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (Al Qashas: 77).

Bukan hanya itu, apa yang disampaikan itu juga menunjukkan kesan bahwa di masa itu masyarakat yang ditemui Abah Anom, dan bahkan bisa jadi hingga saat ini ada ketidakseimbangan dalam menjalankan kehidupan. Sehingga tidak tercapai apa yang disebutnya sebagai kemajuan dunia sekaligus kebahagiaan akhirat.

Lalu, ini juga menunjukkan tidak adanya pembedaan antara dunia dan akhirat. Artinya ada kesatuan dalam menjalankan kehidupan dunia dan akhirat. Abah Anom tidak mendikotomi keduanya apalagi condong dalam salah satunya dan di saat yang sama juga tidak mengabaikan yang lain.

Abah Anom sepertinya ingin mengajak Ikhwan khususnya dan umat Islam pada umumnya untuk memajukan dunia sekaligus memperoleh kebahagiaan yang hakiki.

Sebagaimana teladan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw yang sukses mengemban tugas dan peran sebagai Nabi dan membangun personal leadership, tapi juga sukses dalam dimensi kehidupan lainnya.

Nabi Muhammad adalah sosok yang sukses dalam bisnis dan kewirausahaan, sukses dalam kepemimpinan keluarga, sukses dalam kehidupan sosial dan politik, sukses membangun sistem hukum, sukses dalam dunia pendidikan, serta sukses dalam menjalankan strategi militer.

Abah Anom secara tidak langsung mengajak ikhwan untuk meneladani Nabi Muhammad Saw yang ditulis dalam tinta emas sejarah peradaban manusia.

Misalnya, Michael H. Hart menempatkan peringkat pertama kepada Nabi Muhammad Saw dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History atau 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah.

Abah Anom tidak menginginkan Ikhwan TQN jauh dari Nabi dan Mursyidnya. Sebab kadar kecintaan kepada Nabi ialah sejauh mana ia meneladani beliau. Sebagaimana diungkap dalam kitab Risalatul Mudzakarah karya Imam Abdullah Al Haddad.

Adanya ketidakseimbangan (antara dunia dan akhirat) ini disebabkan oleh sikap dari sebagian besar kita yang hanya membawa keteladanan sosok Nabi saat di masjid, mushalla, maupun majelis ta’lim atau saat berperan menjadi imam, guru maupun pemimpin keagamaan.

Tetapi tidak saat beliau menjadi pemimpin militer, pemimpin umat, pemimpin negara, pemimpin keluarga, pemimpin bisnis, pembuat sistem dan penegak hukum, serta pemimpin sosial dan keagamaan.

Bisa jadi karena Nabi diperkenalkan kepada khalayak sedemikian melangit atau sehingga nabi yang juga manusia seakan-akan sulit untuk diteladani. Bisa jadi juga karena kita tak mengenal sejarah Nabi secara utuh dari berbagai sisi kehidupannya, sehingga yang sampai kepada kita hanya berupa potongan-potongan dari sejarah dan kepribadiannya.

Padahal Nabi Muhammad Saw sebagai manusia yang sukses membangun peradaban saat itu. Beliau adalah manusia paling sukses yang bisa membangun masyarakat yang tadinya jahiliyah menjadi berakhlak mulia. Bahkan dalam waktu kurang lebih dua dekade dengan kepemimpinannya, beliau mampu meruntuhkan dominasi dua imperium besar saat itu yakni Romawi dan Persia.

Abah Anom.

Keteladanan inilah yang turut dilanjutkan oleh Abah Anom dengan aktif membangun peradaban masyarakat secara intensif. Baik itu secara individual, komunal, kultural maupun secara struktural. Misalnya melalui organisasi Yayasan Serba Bakti yang berperan dalam bidang pendidikan, sosial dan keagamaan. Sebagai bukti kecintaan dan melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad Saw.

Bahkan di tahun 1986, Abah Anom pernah ditawari untuk menerima gelar profesor (Guru Besar) bidang Tasawuf. Tetapi dengan kebesaran dan kerendahan hati tidak berkenan menerimanya. Sebab perhatian Abah Anom pada saat itu masih tercurah pada pendirian perguruan tinggi yang kini dikenal dengan nama Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM).

Rekomendasi
Komentar
Loading...