Abdul Khamid Mantap Ikut TQN Karena Mimpi, Ini Kisahnya

Jakarta – Tarekat adalah metode pembersihkan diri untuk mendekat kepada Allah SWT. Saat ini perkembangan tarekat sangat menggembirakan, banyak orang tertarik, mencari tahu lalu akhirnya belajar. Tarekat tidak lagi identik dengan amaliyah dzikir yang dipraktekkan oleh orang-orang tua di pedesaan namun juga anak-anak muda perkotaan.

Abdul Khamid salah satunya. Mahasiswa semester 4, di Telkom University jurusan teknik elektro ini awalnya menghubungi admin TQNNews melalui WhatsApp. Akhir Januari lalu ia menanyakan perihal wakil talqin yang ada di Bandung. Satu minggu kemudian Ia pun menyampaikan jika dirinya telah mengambil talqin dzikir TQN Suryalaya melalui KH. Arief Ichwanie.

“Alhamdulillah Kang, akhirnya saya bisa bertemu dan talqin dengan Kyai Arief Ichwanie,” ujar pria yang akrab disapa Khamid.

Anak muda kelahiran Tangerang, Banten ini sangat bersemangat untuk mendawamkan amaliyah dzikir yang bermursyid kepada Syaikh Ahmad Shahibul Wafa Tajul ‘Arifin. Ia minta disambungkan dengan ikhwan TQN, khususnya yang ada di Bandung agar dapat menjaga keistiqamahan mengikuti manaqib. “Kang ada grup manaqiban tqn di Bandung gak? tanya pria yang memiliki hobi membaca, berorganisasi dan minum kopi.

Saat admin TQNNews mengajak berbagi cerita pengalaman masuk TQN, alumni pesantren Asshiddiqiyah ini pun bercerita. Ketertarikan Khamid dengan kajian tasawuf diawali saat mondok satu bulan di Krapyak untuk mengisi liburan bulan ramadhan tahun lalu. Mulai dari situ ia pun banyak mencari informasi tentang tarekat dan berkeinginan untuk ikut TQN Suryalaya.

Suatu malam ia bermimpi jumpa kakeknya dan terjadi dialog singkat.

Khamid: “Mbah, mas mau ikut tarekat, boleh apa ndak?”

Mbah: “Ooh ya sudah ikut saja, ndak apa-apa,”

Khamid: “Terimakasih Mbah”

Mbah: “Ya”

Satu bulan kemudian saat Khamid pulang kampung ke Boyolali, ia pun menjumpai kakeknya, Mbah Madi Sukarto yang berusia 99 tahun dan minta pendapat jika ia ingin ikut tarekat.

Khamid: “Mbah, mas boleh ikut tarekat?”
Mbah: “Oh ya sudah ikut saja, Mbah juga ikut TQN”

“Nah dalam hati, saya langsung berfikir kok bisa sama dengan tarekat yang ingin saya ikuti,” ujarnya. Mulai saat itu ia semakin mantap untuk mengambil talqin dzikir.

Menurut Khamid, kakeknya mulai ber-TQN saat berusia sekitar 50-an tahun, namun bukan dari jalur Suryalaya. “Saya lupa menanyakan tentang jalur TQN-nya. Katanya saya si Mbah ditalqin tahun 1952 oleh Kyai di Bendo Boyolali, kalau tidak salah namanya Kyai Ikhhsan,” ujar ia menjelaskan.

Semoga harapan Khamid agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi panutan di keluarga dapat terwujud. (Idn)

Rekomendasi
Komentar
Loading...