Adiwarman Karim: Sekarang Banyak Pilihan Wakaf, Semua Bisa Berperan

Jakarta – Perkembangan ekonomi Islam sangat menggembirakan dalam 2 dekade terakhir, termasuk wakaf. Wakaf menjadi salah satu instrumen sedekah yang memiliki potensi besar menghambat laju ekonomi ribawi.

Pakar ekonomi Islam Dr. Adiwarman Karim mengatakan di Timur Tengah wakaf banyak dilakukan oleh orang-orang kaya. Sedangkan di Indonesia sangat menarik, orang yang secara ekonomi lemah juga mengambil peran menjadi wakif. Tidak heran World Giving Index pada Oktober 2018 menetapkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk paling dermawan.

Terlebih lagi kini masyarakat memiliki banyak pilihan untuk wakaf. Jika tidak bisa wakaf permanen, ada pilihan wakaf temporer. “Daripada punya aset lima tahun didiemin, harus bayar zakat, pajak, lebih baik diwakafin aja selama lima tahun,” ujar Adiwarman Karim seperti yang disampaikan dalam Belajar Tentang Wakaf Produktif di kanal youtube PPPA Daqu.

Memang, wakaf yang terjadi masih lebih untuk keperluan sosial, seperti penyediaan fasilitas makam, masjid atau mushala. Tetapi, gerakan wakaf produktif juga semakin membesar digaungkan dan dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk pengamal TQN Suryalaya di Jakarta.  

Wakil talqin, KH Wahfiudin Sakam mengatakan perlu diperkuat literasi tentang wakaf produktif. TQNNews sebagai portal berita dan informasi tarekat di nusantara perlu mendukungnya dengan konten-konten yang terkait antara tarekat dengan ekonomi kreatif seperti fintech, infotech dan biotech.

Ilustrasi.

“Kita harus betul-betul mengembangkan ekonomi kreatif yang basisnya memang wakaf produktif (komersial),” pungkasnya melalui pesan singkat kepada redaksi pada Kamis (5/11).

Kekuatan wakaf harus bisa dimaksimalkan untuk pengembangan ekonomi umat dalam rangka kesejahteraan dan keadilan sosial. Saat ini juga sudah mulai banyak program wakaf tunai, dengan nominal mulai dari 100 ribu rupiah.

Rekomendasi
Komentar
Loading...