Ajarkan Anak STEAM Lewat Permainan Edukatif

Berdasarkan peringkat PISA (Programme for International Student Assessment), Indonesia masih berada pada urutan bawah. Pisa adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa di tingkat global.

Bagaimana tidak disebut rendah, Indonesia menempati peringkat 72 dari 77 negara untuk nilai kompetensi membaca. Untuk nilai matematika duduk di posisi 72 dari 78 negara. Sedangkan untuk nilai sains, Indonesia ada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut bahkan cenderung stagnan dalam 10-15 tahun terakhir.

PISA sendiri merupakan studi yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali, yaitu pada tahun 2000 dan seterusnya. Adapun Indonesia mulai sepenuhnya berpartisipasi sejak tahun 2001.

Rendahnya peringkat Indonesia dalam studi yang dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) beserta konsorsium internasional tersebut mau tidak mau menuntut adanya perubahan dalam dunia pendidikan terutama sejak usia dini.

Ya, sejak usia dini. Maka selain yang utama membentuk anak berakhlak mulia, orang tua atau pun guru bisa menstimulasi anak dengan muatan STEAM.

Apakah Anda pernah mendengar istilah STEAM? STEAM merupakan singkatan dari Science, Technology, Engineering, Art dan Mathematic.

Science
Proses merancang alat, sistem, dan struktur yang membantu manusia memenuhi kebutuhannya atau memecahkan masalah. Contoh: melalui bermain balok, lego, kardus-kardus, papan-papan.
Proses mencari tahu tentang dunia dan cara kerjanya dengan mengeksplorasi, mengumpulkan data, mencari hubungan dan pola, serta menghasilkan penjelasan dan ide dengan menggunakan bukti. (Foto: FreePik)
Technology
Alat-alat yang telah dirancang untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti alat digital komputer dan tablet. (Foto: FreePik)
Engineering
Proses merancang alat, sistem, dan struktur yang membantu manusia memenuhi kebutuhannya atau memecahkan masalah. Contoh: melalui bermain balok, lego, kardus-kardus, papan-papan. (Foto: FreePik)
Art
Merupakan kegiatan anak bermain yang memfasilitasi kebebasan anak untuk memanipulasi material yang beragam dengan cara yang berbeda pada setiap anak sesuai dengan imajinasinya dan tidak terstruktur. (Foto: FreePik)
Mathematic
Mengenalkan konsep matematika antara lain tentang besaran (berapa banyak atau berapa jumlah), struktur (bentuk), ruang (sudut dan jarak), pola, bilangan, dan lain sebagainya. (Foto: FreePik)

Lalu bagaimana tips menciptakan pembelajaran yang bermuatan STEAM pada anak usia dini? Dikutip dari paudpedia, ada tiga hal yang bisa dilakukan:

Pertama, gunakan alat dan bahan serta metode pembelajaran yang bervariasi. Orang tua dan guru bisa menggunakan beragam metode, bahan atau material, serta tidak perlu terpaku pada satu petunjuk atau bahan.

Kedua, selalu meng-update diri untuk terus belajar. Orang tua dan guru juga harus sering membaca perkembangan metode dan pola belajar anak usia dini yang tepat dan terbaru dari berbagai sumber.

Ketiga, lakukan pembelajaran melalui kegiatan bermain. Misalnya bermain membuat jembatan dari alat dan bahan alam atau habis pakai, membuat mainan kesukaan menggunakan playdough, bermain pasir, balok, lego dll.

Karena ini untuk anak, maka orang tua dan guru berperan untuk merancang kegiatan sebaik mungkin dengan cara yang menyenangkan, menyediakan berbagai aktivitas bermain untuk dimainkan anak, alat, bahan dan media yang menarik serta mendampinginya.

Menjadi fasilitator atau mendampingi anak berarti memberikan anak kesempatan memilih dan menyalurkan ide kreatifnya, memberikan tantangan, mendampingi dan memberikan penguatan, merespon positif, memberi semangat kepada anak untuk bermain dan memberi pujian atas karya anak bila ia melakukan hal positif.

Kunci berhasilnya pembelajaran bermuatan STEAM ialah adanya dukungan yang kolaboratif baik dari orang tua atau guru serta lingkungan.

Terutama juga peran stake holder dan dukungan motivasi keagamaan dari pemuka agama. Bahwa Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk menguasai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi yang digunakan untuk membangun peradaban. Lihat saja bagaimana jumlah ayat kauniyah (sains) di dalam al Qur’an lebih banyak dari ayat hukum.

Metode STEAM ini selain bisa mengurangi penggunaan gadget pada anak, juga melatih anak berpikir secara kritis serta membangun cara berpikir logis dan sistematis. Menariknya, karena dikemas dalam bentuk permainan yang edukatif, anak akan belajar tanpa menyadari bahwa dirinya sedang belajar.

Rekomendasi
Komentar
Loading...