Amalan yang Mendekatkan Diri Pada Allah dan Manusia

Berpuasa sejatinya ialah untuk mendekatkan diri pada Allah (taqarrub ila Allah). Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari’ menjelaskan bahwa untuk dekat dengan Allah ada syaratnya dan syaratnya itu adalah niat. Hanya dengan niat akan ada kedekatan (qurbah) dengan Allah Swt.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى،

“Sesungguhnya amal ibadah itu ditentukan sesuai niatnya dan setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkankannya.” (HR. Imam Bukhari).

Karena siapa yang berusaha mendekatkan diri pada Allah, Allah juga akan dekat padanya. Siapa yang ingat Allah, Allah akan ingat padanya.

Dalam hadis Qudsi Allah berfirman, “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku, Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam nafs-Ku, jika dia mengingat atau menyebutku di satu tempat, aku menyebut-Nya di tempat yang lebih baik darinya.

Jika dia berusaha mendekat pada-Ku sejengkal, maka aku mendekat padanya sehasta. Jika dia berusaha mendekat pada-Ku sehasta, maka aku mendekat padanya sedepa. Jika dia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, Ku mendatangi dengan berlari.” (HR. Bukhari).

Kendati demikian, dekat dengan Allah ditandai pula dengan hubungan yang harmonis dengan sesama dan lingkungan. Sehingga Nabi Saw di bulan Ramadhan sangat dermawan sebagaimana digambarkan Ibnu Abbas.

Nabi dalam satu riwayat bersabda:

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ، قَرِيبٌ مِنَ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ، وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنَ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنَ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنَ النَّارِ، وَالْجَاهِلُ السَّخِيُّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَابِدٍ بَخِيلٍ

Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka. Orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dekat dengan neraka. Dan orang jahil yang dermawan lebih dicintai Allah ‘Azza wa Kalla dari ahli ibadah yang kikir. (HR. Tirmidzi).

Dalam Tuhfatul Ahwadzi dijelaskan bahwa dekat dengan Allah artinya dekat dengan rahmat-Nya. Dekat dengan surga karena ia mendistribusikan harta pada mereka yang berhak. Dan mereka yang dermawan juga dicintai oleh manusia meski tidak semua orang mendapatkan manfaat dari kedermawanannya itu.

Sedangkan orang yang kikir ialah mereka yang tidak melaksanakan kewajiban syariat menyangkut harta. Dan mereka akan mendapat kebalikan dari yang dermawan.

Sehingga dikatakan bahwa orang yang hanya menjalankan fardhu tetapi menjalankan kewajiban syariat harta itu lebih baik dari ahli ibadah yang banyak melakukan amalan tambahan tapi amat mencintai dunia sehingga melalaikan kewajiban syariat harta.

وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik. (Saba’: 39).

Dengan demikian, dekat dengan Allah bukan berarti melupakan peran dan tanggung jawab terhadap sesama. Justru kesalehan yang utuh ketika seseorang saleh secara ritual dan sosial.

Rekomendasi
Komentar
Loading...