Antara Idealisme, Sufisme dan Sofisme

Hampir semua orang memiliki perbedaan pandangan dalam menjalani kehidupan. Faktor pengalaman hidup, lingkungan masyarakat, pendidikan orang tua dan lainnya cukup berperan membentuk pola pikir atau prinsip pada diri seseorang.

Pola pikir dan prinsip inilah yang kemudian membentuk Idealisme, kemudian menguatkan karakter yang khas pada dirinya.

Berbicara tentang idealisme bukan tentang benar atau salah. Idealisme adalah prinsip yang menjadi pegangan dan pijakan kuat seseorang dalam menjalani kehidupan.

Ketika dia melangkah keluar dari prinsip hidupnya, dia menganggap dirinya telah keluar dari idealisme nya. Bagi orang yang punya prinsip kuat, keluar dari idealisme adalah sesuatu yang tabu dan terlarang. Dia akan mati-matian mempertahankan Idealisme nya dalam setiap kondisi.

Meskipun orang-orang seperti ini tidak banyak, namun pengaruh pola pemikirannya mewarnai kehidupan dalam bermasyarakat. Ia menjadi pembeda antara pribadi seseorang dibandingkan dengan pribadi seseorang yang lain.

Prinsip idealisme ini pula yang kemudian melatarbelakangi sebuah “pemberontakan spiritual” para ulama sufi di awal abad 2 hijriyah. Terjadi pada masa kekhalifahan Umayah yang mendapatkan kekuasaannya dari sahabat Ali bin Abi Thalib.

Karakter kepemimpinan yang materialistis mengakibatkan banyak terjadi penyelewengan dalam setiap sendi kehidupan para pejabat. Termasuk masyarakat umum.

Kemaksiatan bermunculan, korupsi menjamur, dan hedonisme menguat. Fenomena ini membuat ulama melakukan gerakan zuhud atau meninggalkan semua kemewahan duniawi sebagai sebuah protes sosial kepada kekhalifahan saat itu.

Gerakan zuhud ini kemudian menyebar pesat menjadi amaliah yang diajarkan untuk membersihkan qalbu dari segala pengaruh keduniawian. Gerakan ini kemudian dikenal dengan sebutan Sufisme.

Jadi sufisme berawal dari sebuah gerakan “pemberontakan spiritual” yang menjadi ajaran untuk mencapai tingkatan ihsan . Sufisme diajarkan oleh guru mursyid kepada murid-muridnya untuk menuju kepada jalan Allah SWT melalui berbagai riyadhah atau latihan lahir dan bathin.

Sufi mempunyai prinsip yang kuat dalam mencapai keridhaan dan kedekatan  kepada Allah SWT. Artinya, mereka tidak akan mudah berpaling hanya karena godaan duniawi. Mereka adalah orang-orang yang memiliki dan memegang kuat idealismenya.

Beralih ke kaum Sofis. Siapakah kaum sofis itu?

Kaum sofis adalah para filsuf yang mempunyai keunggulan luar biasa dalam berbicara, beretorika dan berargumentasi. Mereka mampu memengaruhi khalayak dengan segala ucapannya. Pandai merangkai kata kemudian mengarahkan para pendengarnya mengikuti perkataan mereka.

Kaum sofis lahir pada abad ke 5 Masehi. Mereka hidup sezaman dengan Plato. Namun Plato menyebut mereka sebagai kaum yang amoral. Para sofis mempunyai sifat yang buruk yaitu sering meminta bayaran dari ide-ide yang mereka sampaikan. Sesuatu yang belum pernah terjadi pada saat itu.

Keterampilan mereka dalam berbicara dan beretorika, bisa mengubah sebuah kebenaran menjadi sebuah kesalahan dan sebaliknya, menjadikan kesalahan sebagai sebuah kebenaran. Mereka melakukan itu sesuai pesanan. Imbalannya, mereka mendapatkan banyak uang.

Bagi kaum sofis, kebenaran bisa dijual-belikan, dibolak-balikkan sesuai pesanan. Mereka haus akan materi, kekuasaan dan kemuliaan hidup. Tidak heran banyak hujatan ditujukan kepada mereka. Para filsuf yang masih memiliki idealisme dan nurani pun mengecamnya.

Pada perkembangannya, prinsip hidup kaum sofis terus berkembang sampai sekarang. Dengan berbagai cara dan pendekatan masih banyak kita temui orang-orang seperti ini. Berbahaya, karena mereka merekayasa sebuah kebenaran jauh dari norma dan etika.

Apa yang bisa kita ambil dari penjelasan tentang idealisme, sufisme dan sofisme?

Menjadi seorang  idealis itu sangat penting. Kehidupan kita menjadi lebih teratur dan punya prinsip. Bukan sekedar idealisme. Namun idealisme positif seperti yang dicontohkan kaum sufi, berpegang teguh pada prinsip kehidupan menuju hadhirat Allah SWT.

Jangan seperti yang diperlihatkan kaum Sofis, menjual kebenaran sesuai pesanan dengan imbalan uang. Wallahu a’lam.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...