Antara Ilmu dan Akhlak

Socrates pernah mengatakan “Semakin banyak ilmunya maka harusnya orang semakin baik perilakunya.” Bertambahnya ilmu harus berkorelasi dengan baiknya amal. Kenapa seperti itu?

Kalau ada orang berilmu tetapi perilakunya tidak baik, ia bertentangan atau melawan ilmunya sendiri. Dan orang seperti ini tidak bisa dikatakan sebagai orang pintar namun disebut sebagai orang bodoh.

Orang bodoh hidupnya gelisah, sementara orang pintar, hidupnya akan bahagia karena ia memperjalankan hidupnya sesuai dengan ilmunya. Itulah kesimpulan yang disampaikan Socrates kepada murid-muridnya.

Konsep Socrates sama dengan praktek Tasawuf dalam agama Islam. Inti belajar tasawuf adalah menjadikan akhlak dan adab sebagai ruh utama dalam berislam. Gabungan antara ilmu aqidah (rukun Iman), ilmu syariat (Rukun Islam), dan ilmu tasawuf (rukun Ihsan) menghasilkan umat yang pandai secara ilmu lahir juga pandai dalam ilmu batin (akhlaq). Inilah representasi Islam Kaffah. Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin.

Abdurahman bin Qasim, pelayan Imam Malik bin Anas menceritakan, selama 20 tahun belajar ke berbagai guru, Imam Malik menghabiskan 2 tahun untuk mempelajari ilmu, 18 tahun untuk mempelajari akhlak.

Imam Malik dan juga ulama-ulama besar lainnya, sangat menempatkan akhlak di atas ilmu. Keluhuran akhlak menjadikan dakwah berkembang pesat. Mereka menjadi rujukan umat dalam ilmu keislaman sepanjang zaman.

Orang-orang yang berakhlak menurut Rasulullah SAW akan ditingkatkan derajatnya. Akhlak juga menjadi ukuran keimanan seseorang. Sementara akhlak buruk akan melenyapkan amal seseorang dan menjadikannya tercela di dunia dan akhirat.

Dalam hadits riwayat Jabir ra, Rasulullah bersabda, “Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat kedudukannya di surga adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang pongah dan sombong.”

Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang yang bisa mempertahankan dan memperbaiki akhlak.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...