Apa Bisa dengan Bertarekat Etos Kerja Meningkat?

Etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Maka etos kerja akan tumbuh sesuai dengan nilai dan keyakinan yang dipegangnya.

Dari nilai dan keyakinan itulah kemudian setiap kelompok atau bangsa akan memiliki etos kerja yang berbeda-beda sesuai kultur, nilai, norma dan kebiasaannya.

Lihat saja Jepang misalnya, dikenal sangat disiplin dalam urusan waktu. Terlambat bagi mereka adalah hal yang memalukan. Kultur gila kerjanya membuat target apapun lebih bisa dicapainya.

Amerika juga punya etos kerja yang profesional. Sangat menghargai waktu dan fokus pada apa yang mereka kerjakan. Sifat individualisnya membuat mereka tidak mau mengurusi yang bukan urusannya dan mementingkan efisiensi, kecuali untuk sosialisasi urusan pekerjaan.

Eropa yang diwakili oleh Jerman pun demikian, masyarakatnya punya manajemen waktu yang baik. Mereka terbiasa menargetkan sesuatu demi mencapai tujuan.

Sedangkan Arab terkenal sangat pandai sekali berniaga dan menempatkan tenaga asing untuk mengisi SDM untuk mengurusi hal yang bukan keahliannya.

Indonesia memang dikenal tidak memiliki etos kerja segila Jepang, seefisien Amerika, atau mengalahkan manajemen waktunya Jerman. Karena tergantung pada individualnya masing-masing. Yang jelas sopan santun dan tatakrama masyarakat Indonesia masih jadi keunggulan atas bangsa lainnya.

Bertarekat Etos Kerja Meningkat?

Secara harfiah, tarekat berasal dari kata thariqah yang berarti cara, jalan atau metodologi.

Tarekat adalah cara, jalan atau metode yang dilakukan para sufi untuk menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah sebagai implementasi dari dimensi Ihsan yang merupakan bagian dari tiga pilar agama selain Islam dan Iman.

Sisi lainnya, tarekat juga merupakan metode psikologis yang dilakukan oleh seorang Guru Mursyid untuk membimbing murid merasakan kehadiran Allah Swt dalam setiap aktivitas kehidupan.

Tarekat adalah jalan penghayatan dalam melaksanakan tugas-tugas keagamaan (at takalif as syar’iyyah) sesuai titah-Nya baik sebagai hamba Allah atau menjalankan fungsi khalifatullah untuk membangun peradaban memakmurkan bumi.

Selain itu, tarekat juga merupakan organisasi para pengamal tasawuf di bawah bimbingan seorang Mursyid agar menjadi hamba Allah yang dicintai dan diridhai-Nya berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah sehingga selamat dunia dan akhirat.

Dalam aplikasinya tarekat dibangun berdasarkan ilmu amaliah dan amal ilmiah. Sehingga tarekat tidak bisa terlepas dari syariat, karena keduanya terintegrasi.

Imam Junaid al-Baghdadi berkata,

علمنا هذا مقيد بالكتاب والسنة

“Ilmu (Tasawuf) kami ini berasaskan al-Qur’an dan as-Sunnah.”

Tarekat juga memiliki bentuk persaudaraan sesama pengamal tarekat yang ditandai dengan lembaga yang terorganisir, zawiyah, ribath, ma’had dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana kaitannya tarekat dan etos kerja? Apa bisa dengan bertarekat etos kerja meningkat?

Pertama, jalan yang ditempuh Al Arifin atau ulama sufi adalah jalan yang mendekatkan orang kepada sunnah dan menekankan untuk meninggalkan yang haram, syubhat, makruh bahkan yang mubah namun berlebihan dan tidak prioritas secara sungguh-sungguh.

Sedangkan etos kerja adalah nilai kesungguhan dan semangat. Sejak awal para pengamal tarekat berbaiat agar memiliki tekad dan kesungguhan.

Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Kesungguhan itu bukan hanya dalam melaksanakan kewajiban dan memenuhi hak namun juga bersungguh-sungguh meninggalkan keburukan. Sedangkan malas bekerja dan bekerja dengan lunglai adalah hal yang buruk.

Bahkan pengamal tarekat dituntut untuk membagi waktunya agar bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Itu sebabnya, dalam terekat dilatihkan dzikir agar tidak lalai (ghaflah) dalam bekerja dan disiplin terhadap waktu.

Kedua, metode dalam tarekat ialah agar pengamal tarekat membersihkan diri dari aneka sifat buruk, kotoran batin, dan menghiasnya dengan sikap mulia sehingga dalam setiap aktifitasnya (termasuk bekerja) ‘melihat’ Allah atau merasa diawasi-Nya.

Dengan begitu ia selalu terdorong untuk melakukan yang terbaik dengan performa terbaik. Sebagaimana orang bekerja tentu jadi lebih giat ketika merasa diawasi.

Melalui metode yang dilatihkan oleh guru Mursyid untuk menyingkirkan aneka motif buruk dan penyakit hati seperti iri, dengki, dendam, sombong, pelit dan ujub misalnya, maka performa kerja tentu bisa lebih maksimal.

Ditambah metode dalam tarekat ini ialah untuk melatih diri mengelola hawa nafsu agar bertindak skala prioritas. Tarekat sangat erat hubungannya dengan etos kerja untuk mendapatkan performa kerja optimal.

Ketiga, persaudaraan sesama pengamal tarekat ialah persaudaraan yang dibangun diatas dasar cinta dan tali kasih sesama murid dalam tarekat oleh ikatan kerohanian yang dibimbing guru Mursyid.

Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Sehingga saling mengingatkan dan saling memberi motivasi ketika iman sedang melemah sudah menjadi kultur dan budaya, selain bahwa hal itu menjadi adab diantara para murid.

Lalu melalui kegiatan rutin dalam majelis ilmu dan majelis dzikir, serta zawiyah dan masing-masing organisasi tarekat berfungsi untuk menjaga energi dan para murid agar senantiasa istiqamah.

Yakni konsisten bersungguh-sungguh meneladani Nabi Saw dalam etos kerjanya yang luar biasa, sambil terus meluruskan niat dan membersihkan qalbu dari hal yang kotor dan buruk.

Jadi, tarekat dengan etos kerja itu sangat terkait. Bertarekat tapi masih bekerja dengan etos kerja yang buruk, bisa jadi ada masalah dengan dirinya.

Karena dengan bertarekat, bekerja lebih memiliki esensi yang hakiki yakni demi mempersembahkan yang terbaik untuk Allah Swt. Bukan sekedar bekerja dalam wilayah etika tapi juga sisi estetika, karena bekerja bagi pengamal tarekat adalah timbul dari kesucian jiwa serta melahirkan keindahan.

Rekomendasi
Komentar
Loading...