Apa Saja Larangan Selama Ihram?

Dalam kajian sebelumnya kita sudah mengenal dan memahami prinsip dasar tentang Ihram. Sekarang akan kita bahas, larangan apa saja yang berlaku selama ihram?

Kalau kita baca buku bimbingan manasik haji dari Kementerian Agama larangan-larangan dari ihram begitu banyak. Jarang orang yang bisa menghafalnya sekaligus. Supaya memudahkan, berikut cara memahaminya.

Pertama, dengan haji dan umrah kita sedang mendekatkan diri kepada Allah. Siapa Allah? Tuhan Yang Maha Besar. Allahu Akbar, Allah Maha Besar, Mulia, Maha Tinggi, Allah Maha Agung. Kita mau mendekat kepada Allah Yang Maha Besar, bagaimana memosisikan diri? Jangan merasa besar juga.

Dihadapan Dia Yang Maha Besar, jangan pula merasa besar. Merasa besar, merasa hebat, merasa mulia, bahasa Arabnya takabur. Supaya tidak ada rasa takabur, “Hei kalian laki-laki lepas semua pakaian”. Kenapa? pakaian adalah simbol, atribut yang bisa membuat kita merasa lebih mulia dari orang lain.

Lihat para raja, dengan jubahnya merasa besar dan terbesarkan. Para pria mengenakan jas, dasi, merasa besar karena memang pakaian simbol atau alat yang mudah membuat orang merasa besar. Singkirkan segala pakaian yang menempel di badan.

Para pria cukup menutup aurat ala kadarnya. Tidak mengenakan pakaian yang bertangkup. Makna bertangkup itu tersambung, terselubung, kadang di buku manasik haji ditulis tidak boleh memakai pakaian yang berjahit. Lalu ada yang mengakali pakai kain ihram dengan ujungnya dilem. Itu namanya juga bertangkup.

Begitu lah kita dilatih hidup sederhana dengan selembar kain. Bahkan orang Pakistan, India kain ihramnya betul-betul kain ihram yang putih polos, tidak seperti kita, ada bulu-buluan. Singkirkan pakaian yang bertangkup.

Sepatu. layaknya pakaian, alas kaki ini juga merupakan simbol, derajat seseorang. Cukup pakai sandal jepit.

Begitu juga tutup kepala. Seseorang yang memakai peci hitam biasanya dari kampung, tapi kalau peci putih sudah haji. Singkirkan. Bukan sekedar pecinya, namun juga perasaannya.

Wanita menutup semua tubuhnya kecuali muka dan tangan. Tidak boleh juga menggunakan sarung tangan, karena sarung tangan itu adalah simbol yang sering dinikmati perempuan. Lihat lah ratu-ratu. Mereka memakai sarung tangan dan cadar. Itu yang membedakan keluarga kerajaan dengan rakyat biasa. Singkirkan.

Bukan pula sekedar cadar dan sarung tangan. Singkirkan juga ketakaburan dihadapan-Nya. Hanya Dia Yang Akbar. Bukan hanya lahiriah yang perlu kita benahi, juga aspek ruhaniahnya. Mereka yang telah bertarekat akan jauh lebih menikmati ibadah haji.

Kedua. Haji dan umrah untuk mendatangi, mendekatkan diri kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dihadapan Dia, jangan menunjukan, mendemonstrasikan kezaliman. Jangan mempertontonkan kekerasan, termasuk terhadap diri sendiri. Maka dilarang memotong kuku, gunting rambut, kumis, janggut dan apa pun yang ada pada diri sendiri.

Terlebih lagi kepada makhluk lainnya. Jangan kau nampakan kekerasan. Jangan kau robek itu pohon, jangan kau patahkan itu tangkai, jangan kau coba tebang batang pohon.

Begitu juga terhadap binatang. Saat sedang ihram tidak boleh mengejar, menangkap, menyembelih binatang. Jangankan menyembelih, mengagetkan kucing yang sedang duduk saja tidak boleh.

Apalagi ke orang lain. Jangankan dipukul, didorong, dihardik tidak boleh. Selalu berprasangka baik.

Jadi, orang yang ber-ihram dilatih supaya tidak zalim. Kalau kita kaya, mampu, berkuasa, hebat, hati-hati… tiap penggunaan kekuasaaan akan dimintai pertanggungjawabannya. Tanggung jawab tidak hanya di dunia, juga di akhirat.

Dengan ihram kita dilatih untuk inward looking, pengamatan ke dalam diri, introspeksi diri.

Ketiga. Sesungguhnya kita itu milik Allah, kepada-Nya kita akan kembali. Untuk apa kita pergi umrah dan haji? Untuk mendekatkan diri kepada Allah. Memang Allah itu siapa? Dia adalah sumber dari kehidupan.

Kita ada karena diadakan-Nya. Kita hidup karena dihidupkan-Nya. Diri kita pun milik-Nya. Semua difasilitasi-Nya, kesehatan, rezeki, kebahagiaan.

Lalu apa arti hidup di dunia ini?

Hidup ini seperti musafir, berjalan di atas padang pasir. Kepanasan berhenti di bawah pohon, setelah berteduh sejenak jalan lagi. Hidup di dunia bagaikan berteduh sejenak sebelum melanjutkan perjalanan yang panjang.

Dunia berasal dari kata dana, artinya pendek singkat. Terhadap kehidupan yang singkat ini jangan sampai tumbuh Mahabbah Hubbud Dunya, kecintaan yang berlebih terhadap dunia. Penyakit yang ditakuti Rasulullah pada umatnya adalah hubbud dunya dan takut atau benci kematian.

Dalam ibadah umrah dan haji kita dilatih untuk menyadari bahwa kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Lupakan dunia, lepas lah diri kita dari daya tarik dunia yang sering melambai penuh dengan daya tarik.

Dua daya tarik dunia yaitu wangi-wangian dan seks. Itu sebabnya dalam masa ihram kita tidak boleh terlibat dengan segala bentuk wangi-wangian. Wangi dari parfum yang di semprotkan, deodorant yang di oleskan, maupun sabun, shampo dan pasta gigi. Bahkan cuci tangan tidak boleh menggunakan sabun dan sejenisnya. Pokoknya segala bentuk wangi-wangian apa pun bentuknya jauhkan. Berlatih hidup tanpa wewangian dunia.

Seks. Segala sesuatu yang mengarah kepada seks seperti merayu, mencumbu, bahkan menikah saat ihram dilarang. Jadi saksi pernikahan, melamar pun tidak boleh.

Jelaslah bahwa yang terlarang dalam ihram, ingat 3 hal yang secara spiritualnya; jangan ada rasa besar, takabur rasa lebih dari orang lain; jangan zalim menggunakan kekerasan yang tidak proposional; dan jangan sampai kepikiran dunia.

Maka simbol-simbol lahiriah akibat 3 sifat itu pun tidak boleh dilakukan selama ihram.

(KH. Wahfiudin Sakam, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...