Babat Alas Putaran Tasbih di Eropa (1)

Belanda – Perkembangan Islam di Amerika dan Eropa tidak lepas dari peran para sufi. Mereka berhasil memperkenalkan Islam dengan wajah yang ramah, damai dan penuh cinta. Jalan dakwah para sufi membuat mereka jatuh cinta dan akhirnya terpikat untuk belajar tentang Islam.

Di masa perjuangan kemerdekaan, Belanda sangat takut dengan komunitas para pengamal tarekat karena munculnya pemberontakan terhadap penjajah kerap datang dari para ulama tarekat. Kini kehadiran ulama tarekat di Belanda menjadi sebuah kerinduan karena dahaga spiritualitas yang mereka rasakan.

Untuk kesekian kalinya, salah seorang wakil talqin Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya (red: TQN Suryalaya) KH. Wahfiudin Sakam melakukan safari dakwah ke Eropa. Perjalanan selama 2 minggu mengunjungi 3 negara; Belanda, Portugal dan Germany.

Setelah mengangkasa sekitar 17 jam (transit Singapore), Kyai Wahfiudin tiba di Amsterdam (6/11) menjelang shubuh, disambut cuaca yang dingin sekitar 8° C. Agenda pertama adalah mengunjungi Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) Breda di sore hari. Masih ada cukup waktu beberapa jam untuk rehat dan menyiapkan diri.

Kajian dimulai selepas ashar di Masjid an-Nur, Breda. Acara dibuka oleh Haji Peter Oorschot, Ketua PPME Breda, Belanda. Peserta yang didominasi oleh kaum ibu-ibu ini berakhir menjelang maghrib. Waktu shalat ashar di sana 14:36 dan maghrib 17:03.

Penyampaian kajian tidaklah sulit karena disampaikan dengan Bahasa Indonesia, karena mayoritas yang hadir adalah WNI yang telah bermukim cukup lama di sana karena pekerjaan dan kuliah. Sebagian telah menikah dengan warga setempat. (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...