Bagaimana Membangun Jiwa Leadership Anak?

Al Qur’an adalah kitab petunjuk bagi manusia. Sebagai petunjuk, sudah seyogyanya kandungan al Qur’an perlu terus diketengahkan agar bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu yang diketengahkan itu ialah bagaimana pesan Luqman kepada anaknya. Hal tersebut diuraikan dalam surah Luqman ayat 13 hingga 19.

Nilai-nilai yang disampaikan dalam surah Luqman tersebut bukan hanya penting bagi pendidikan dan pengasuhan anak tapi juga berperan dalam membentuk jiwa leadership anak.

Luqman, adalah salah satu sosok yang disebutkan dalam al Qur’an. Para ulama berbeda pendapat mengenainya. Ada yang beranggapan, ia termasuk nabi, tapi mayoritas menilai bahwa ia tergolong hamba Allah yang saleh dan bukan seorang nabi.

Yang jelas Allah telah menganugerahinya hikmah, “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman.” (QS. Luqman: 12).

Hikmah bisa berarti adalah akal dan pemahaman. Orang yang diberi hikmah artinya memperoleh ilmu yang bermanfaat dan mampu mengamalkannya.

Lalu nilai apa saja yang perlu ditanamkan pada anak agar memiliki jiwa leadership?

Ketauhidan
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Dengan nasehat yang lembut menyentuh qalbu, Luqman menasehatkan pada anaknya agar jangan menyekutukan Allah baik dalam ibadah, dalam ucapan dan perbuatan.

Luqman mengingatkan agar anaknya ikhlas dalam melakukan aktivitas demi karena Maha Pencipta Allah Swt. Pesan ini juga mengandung arti agar anaknya mudawamah dan istiqamah menjaga keimanan dan ketaatan kepada Allah. Sambil juga mengingatkan bahwa syirik adalah kezaliman yang besar.

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Hormat dan Berbakti pada Kedua Orang Tua
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. (QS. Luqman: 14).

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, (QS. Luqman: 15).

Berbakti kepada orang tua dan memperlakukan keduanya dengan baik adalah wasiat yang Allah sampaikan kepada manusia. Karena seseorang tidak bisa menjadi pemimpin yang baik, jika tidak hormat, tidak bersyukur dan berbakti kepada orang tua yang banyak berjasa di dalam hidupnya.
Jika dilihat lebih jauh, Al Qur’an juga kerap kali menggandengkan ketauhidan atau hal menyangkut keesaan Allah dengan berbuat ihsan (berbakti) kepada orang tua.

Mengikuti Jalan Sufi

..dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman: 15).

Allah Swt memerintahkan agar mengikuti jalan yang ditempuh oleh orang-orang saleh. Yakni mereka yang kembali, bertaubat dan melakukan ketaatan dengan penuh keikhlasan. Jalan ini ialah jalan yang ditempuh oleh para sufi.

Untuk mengasah jiwa kepemimpinan, anak perlu didekatkan dengan jalan dan lingkungan orang-orang yang saleh. Saleh di sini ialah yang memiliki attitude yang baik, integritas, kecakapan, kebaikan, serta pengalaman yang bisa mendekatkan diri pada Allah Swt.

Karena setiap anak memerlukan role model dalam membentuk diri untuk menjalankan peran kepemimpinannya di masa mendatang.

Muraqabah
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

(Lukman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.” (QS. Luqman: 16).

Pemimpin yang tidak memiliki rasa takut (khasyah) kepada Allah akan banyak merugikan orang lain dan melenceng dari jalan yang benar.

Oleh karena itu, perlu ditanamkan rasa kagum dan memuliakan Allah, takut (khasyah), serta merasa diawasi Allah (muraqabah). Karena Allah pasti akan membalas sekecil apapun amal perbuatan seseorang.

Mendirikan Shalat
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. (QS. Luqman: 17).

Anak perlu dididik menjadi orang yang mendirikan shalat dengan khusuk dan ikhlas. Shalat adalah bentuk penghormatan dan penghambaan diri pada Allah yang merupakan kebutuhan manusia. Shalat bisa melahirkan ketenangan batin dan mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.

Amar Ma’ruf Nahyi Munkar
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Anak perlu dilatih dan ditanamkan nilai kepedulian. Semakin peduli, maka semakin tinggi pula jiwa kepemimpinan seseorang. Bentuk kepedulian itu dengan melakukan amar ma’ruf nahyi munkar.

Dimulai dengan mengenalkan anak terhadap hal-hal yang diperintahkan dan dilarang sesuai dengan syariat. Baru setelah itu anak dilatih untuk bisa melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar sesuai kapasitas dan potensinya dengan cara yang baik dan proporsional (adil).

Pemimpun harus punya keberanian untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik di tengah masyarakat, dan tidak diam dengan adanya kemunkaran.

Kesabaran
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Hidup penuh dengan ujian, tantangan, perjuangan dan cobaan. Karena istirahat yang sebenarnya hanyalah di surga. Pemimpin mutlak memiliki kesabaran, baik sabar dalam melaksanakan tugas dan ketaatan, sabar dalam menahan diri dari melakukan maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian, cobaan dan penderitaan.

Tawadhu’

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).

Anak perlu dididik agar menghormati setiap manusia, tidak memandang rendah. Jangan sampai ada sikap takabbur (sombong) dan meremehkan manusia dalam tindak tanduknya.

Tawasshut

“Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19).

Prinsip selanjutnya ialah tawasshut (moderat) dan berlaku adil (i’tidal) dalam segala urusan. Termasuk di dalamnya sederhana dalam sikap termasuk ketika berjalan tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.

Anak perlu dilatih untuk beradab dalam sikap dan suaranya. Melunakkan suara kecuali memang dibutuhkan untuk ditinggikan. Karena menahan suara sehingga tidak terlalu lantang dan keras ketika berbicara ialah bentuk adab dan kepercayaan diri serta menandakan kedamaian hati.

Rekomendasi
Komentar
Loading...