Belajar dari Bencana Kaum Saba

Penanganan bencana tidak cukup hanya dengan perbaikan dan pembangunan fisik atau infrastruktur: menyodet sungai, membangun waduk, menormalisasi sungai serta kali dan sebagainya. Alangkah lebih baik jika ada perbaikan akhlak masyarakat, baik akhlak kepada Allah SWT, kepada sesama manusia, kepada makhluk hidup lainnya dan juga kepada alam.

Ada satu kisah di dalam Al-Qur’an yang terkait dengan hal ini, yaitu kisah Kaum Saba. Kisah ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, terutama pemerintah, bahwa penanganan bencana dengan perbaikan dan pembangunan infrastruktur ti-daklah cukup. Jika masyarakatnya kufur kepada Allah SWT, maka murka-Nya tetap saja turun. Sekuat apapun bendungan dan waduk yang dibangun manusia, jika Allah SWT sudah murka, maka tetap saja jebol.

Begitu besarnya pelajaran yang dapat dipetik dari bencana Kaum Saba ini, sampai diabadikan sebagai salah satu nama surat dari Al-Qur’an, yaitu surat Saba, surat ke-34. Mereka dihancurkan karena sudah sangat-sangat kafir kepada Allah SWT.

Nama Saba’ digunakan sebagai nama kaum dan kerajaan yang diambil dari nama raja pertamanya, yaitu Saba’ bin Yasjib bin Ya’rib bin Qahthận.

Kaum Saba’ disebut juga Sabæ atau disebut juga sebagai Kaum Tubba. Mereka adalah masyarakat kuno yang berbicara bahasa Arab Selatan Lama yang bemukim di tempat yang sekarang disebut Yaman, di barat daya Semenanjung Arab; dari 2000 SM hingga abad ke-8 SM. Sebagian kaum Saba’ juga tinggal di D’mt, yang terletak di utara Ethiopia dan Eritrea, karena hegemoni mereka mereka melampaui Laut Merah.

Mereka tadinya merupakan kaum yang bertauhid, namun kemudian kufur dengan berpaling menyembah selain Allah SWT, seperti menyembah benda-benda langit, dan menjadikannya dewa.

Gambar di samping adalah prasasti penduduk Saba, bukti kekufuran mereka. Prasasti itu ditujukan kepada dewa bulan Almaqah, menyebutkan lima dewa bangsa Arab Selatan, dua penguasa yang memerintah dan gubernur pada abad ke-7 SM Prasasti penduduk Saba yang ditujukan kepada dewa bulan Almaqah, menyebutkan lima dewa bangsa A-rab Selatan, dua penguasa yang memerintah dan gubernur pada abad ke-7 SM.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...