Bener Ning Ora Pener

Perenungan tentang keberagamaan,

1. Agama, karena keragaman pemeluknya, maka selalu melahirkan multi interpretasi, bahasa gampangnya multi tafsir.

2. Agama, karena berasal dari Tuhan yang menyandang atribut absolut (mutlak), maka selalu ada bias absolutisme dalam tafsir-tafsir agama. Masing-masing pengusung suatu tafsir cenderung mengatakan tafsirnya yang paling benar secara absolut.

3. Agama, juga tafsirnya, sebagai nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ideal, tentu membuat pengusungnya untuk mewujudkan nilai-nilai dalam bentuk nyata, menjadi sistem sosial (terutama ekonomi dan politik). Terkadang upaya itu dilakukan atas nama yang lebih halus, yaitu dakwah.

4. Upaya membangun sistem sosial akan menjadi efektif bila mendapatkan dukungan dana dan kekuasaan. Dari sini dakwah agama mulai mencari pasangan dan “berselingkuh” dengan pemodal dan penguasa. Dari sini pula mulai muncul persaingan dan godaan-godaan penyimpangan.

Dalam sejarah Islam, hal itu mulai nyata di masa Utsman b Affan. Beliau yang Pemodal (pedagang kaya) sekaligus menjadi Penguasa (khalifah).

Tak lama setelah itu terjadi dakwah-dakwah yang “mengeras” dari beberapa kelompok/wilayah.

Akhirnya terjadi pembunuhan, berlanjut dengan peperangan-peperangan, lalu terbentuklah fragmentasi Ahlul Jama’ah, Syi’ah Ali, Khawarij dan Ahlus Sunnah. Kelak yang berkelanjutan menjadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Syi’ah.

5. Selesai sampai di situ? Tidak. Masing-masing kelompok pun melanjutkan pemisahan diri. Masing-masing menunggu momen mendapatkan dukungan Pemodal dan Penguasa. Bila momen itu terjadi, yang sedang mendapatkan momen cenderung akan mengecilkan dan menghantam kelompok-kelompok yang lain. Ini yang bisa menyebabkan dai dapat menjadi buzzer.

6. Di luar itu, terbentuklah kaum gnostic. Naluri bertuhan ada pada setiap orang. Ajaran suci dari Tuhan, sekaligus jalan menuju Tuhan, adalah agama. Tetapi yang nampak di permukaaan adalah agama malah menjadi “penyebab” hilangnya kedamaian hidup manusia dan rusaknya martabat Tuhan.

Agama sering tampil membingungkan. Akhirnya mereka memilih berTuhan namun tidak beragama karena terlalu banyak hal yang mendesak untuk dikerjakan dan tidak punya waktu untuk terlibat dalam pertikaian agama (baik tafsir maupun para pengusungnya).

7. Bagi yang berTuhan dan beragama tetaplah pedomani surat al-‘Ashr, beragama itu:
Beriman
Beramal shalih
Berkomunikasi dengan kebenaran dan kesabaran.

Memperjuangkan kebenaran pun harus disertai dengan kesabaran, karena di dunia ini benar tak selalu menang.

Supaya juga tidak terjebak pada apa yang dalam budaya Jawa dikenal berupa tetembungan: Bener Ning Ora Pener.

(KH. Wahfiudin Sakam, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya dari Jakarta)

Rekomendasi
Komentar
Loading...