Berguru Pada Seekor Burung

Syaqiq al-Balkhi tengah dalam perjalanan bersama mursyidnya Syaikh Ibrahim bin Adham. Suatu hari, keduanya menjumpai seekor burung menggelepar di atas tanah karena sayapnya patah.

Belum sempat keduanya berbuat sesuatu, datang lagi seekor burung lain yang melolohkan makanan ke burung yang tergeletak itu. Lalu Syaqiq bergumam, “Kenapa aku khawatir tentang rejekiku padahal Allah telah menjamin rejeki seekor burung yang patah sayapnya.”

Mendengar itu mursyidnya berkata, “Aneh kamu Syaqiq. Kenapa hanya kamu lihat burung yang patah sayapnya itu, tetapi tidak kamu lihat burung yang sehat yang dapat memberi makan kepada sesamanya yang membutuhkan?”

Burung yang pertama memberi kita pelajaran, bahwa Allah selalu menjamin kebutuhan hidup mahluk-Nya, bahkan seekor burung sekalipun yang sayapnya patah. Bukankah kita juga mahluk Allah? Sedih atau khawatir pada nasib hari ini atau esok merupakan tanda lemahnya keyakinan kepada-Nya.

Burung yang kedua memberi kita pelajaran, bahwa dalam kondisi apapun kita harus peduli pada orang lain dan lingkungan. Karena untuk itulah tujuan kita diciptakan di muka bumi. Seekor burung saja peduli pada sesamanya. Apakah kita lebih hina dari seekor burung? Ya, selama kita berbuat acuh apalagi zhalim kepada orang lain dan lingkungan sekitar.

Oleh: Cecep Zakarias El Bilad

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...