Berkhidmatlah Kepada Pondok Pesantren Suryalaya

“Goler Hoe” itu adalah salah satu ungkapan yang senantiasa dibahas oleh KH. R. Abdullah Syarief di kala senda gurau pagi di Kamtib Madrasah Pondok Pesantren Suryalaya.

Di sela-sela gelak candanya itu pula, tercermin khidmat yang senantiasa menjadi pegangan dalam sebagian besar hidup yang dijalaninya selama 100 tahun lebih hingga akhir hayatnya.

Rutinitas beliau selepas Isyraq ialah menaiki 17 tangga di depan rumahnya. Dengan ditemani ‘Iteuk’ dan si ‘Koneng’ sebagai kendaraan dinas harian yang senantiasa menunggu setia walaupun seharusnya kendaraan tersebut diperebutkan orang-orang yang hendak ke pasar dan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah.

Ketika Akeh -panggilan untuk KH. Abdullah Syarief- setiap pagi berangkat ke Pondok Pesantren Suryalaya. Dengan berkaca-kaca beliau berbicara ketika ditanya maksud dan tujuannya.

“Akeh mah mung hoyong tepang sareng panangan guru” (Akeh mah hanya sekadar ingin jumpa dengan tangan sang guru).

Dan terdeskripsikan memang demikian, ketika Akeh datang ke Pondok Pesantren Suryalaya setiap pagi beliau dengan segera ke ruang makan dan kemudian duduk di kursi meja makan madrasah. Selalu pada kursi itu, karena kursi itu menghadap simetris ke ruang keluarga madrasah tempat Pangersa Abah Anom duduk.

Ketika duduk di kursi itu Akeh senantiasa tunduk seperti sedang khafiy sambil menunggu pintu ruang keluarga terbuka dan dipersilahkan mencium tangan Mursyid Kamil Mukamil. Beliau tidak pernah dan mungkin tidak akan mau membuka pintu terlebih dahulu apalagi memaksa untuk segera ke tempat pangersa Abah tanpa dipersilahkan dan dibukakan.

Pada hari Kamis setelah Manaqib Sulthan Aulia Syekh Abdul Qadir Al Jailani yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Suryalaya. Atas petunjuk dan titah Pangersa Abah Anom, dilaksanakanlah Manaqib di Masjid Baitul Ghofur – Ciawi, yang mana Akeh dalam hal ini dipercaya untuk tinggal di sana.

Saat itu Akeh membuka Khidmat Ilmiah dengan ungkapan “Guru Ratu Wong Atuo Karo” dan membahas kedalaman Khidmat sebagai salah satu kunci, serta membahas adab murid kepada Mursyid yang sangat penting. Beliau juga membahas kaidah-kaidah tasawuf lainnya.

Melihat keberadaan perjalanan hidup seorang Akeh dihiasi dengan kesederhanaan dan nilai-nilai kepatuhan kepada Mursyid, sosok Akeh mungkin bisa dijadikan salah satu role model hubungan antara murid kepada Mursyid yang penuh dengan kehalusan.

Akeh terlahir dengan nama R. Abdullah Syarif yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Dilahirkan pada tanggal 11 Januari 1911.

Penuturan beliau, “Akeh mah lain ajengan komo kiai, Akeh mah kiper (penjaga gawang)”.

Dan memang karena hobinya bermain bola, Akeh merupakan atlit sepakbola yang cukup digandrungi di lingkungannya, bahkan pernah bermain dengan melawan negara lain pada masanya.

Dalam perjalanan hidupnya, kemudian pangersa Akeh diangkat menjadi salah satu wakil Talqin Pengersa Abah Anom, dengan panggilan kesayangan “Imid”.

Akeh senantiasa mengungkapkan bahwa kasih sayang Mursyid (Abah Anom), berkah dan karamahnya yang menjadikan hidup Akeh jauh lebih berarti.

Akeh senantiasa menjaga nilai-nilai kesederhanaan dan kepatuhan, sehingga ini menjadi satu keutamaan di mata para Ikhwan Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.

Pangersa Akeh wafat pada tanggal 18 Oktober 2013, dengan meninggalkan 3 anak dan 1 istri.

Pada akhir masa hayatnya Akeh pernah ditanya oleh beberapa Ikhwan tentang sikap yang harus dilakukan oleh ikhwan akhwat setelah meninggalnya Abah Anom. Dan Akeh menuturkan; “Berkhidmatlah kepada Pondok Pesantren Suryalaya”.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu. Aamiin.

Sumber: Majalah Sinthoris Edisi Juni 2017

Rekomendasi
Komentar
Loading...