Bersatu dalam Akidah

“Bersatu dalam akidah. Berjamaah dalam ibadah. Toleransi dalam khilafiyah. Kerjasama dalam dakwah.” Demikian almarhum KH. Zainal Abidin Bzul Asyhab membuka ceramahnya dalam salah satu acara Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di Masjid Al-Mubarak Rawamangun, Jakarta di 2014.

Dalam tausiyahnya, ulama yang akrab dipanggi Ajengan Jejen itu menyampaikan, kebanyakan umat Islam di Indonesia masih memahami akidah pada level dasar (mulki). Padahal masih banyak level pemahaman akidah yang harus dilalui.

Hal inilah yang menghambat kemajuan umat. Tuhan masih dikenali hanya sebatas nama Allah. jumlahnya adalah satu (esa). Dia yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Dia memiliki banyak nama dan sifat.

Tauhid mereka baru sebatas di lidah dan akal pikiran, tapi belum masuk ke dalam rasa. Mereka lebih sering melupakan Allah daripada mengingat-Nya, karena berhenti di pikiran/akal. Lalu masing-masing golongan memiliki konsep tauhid yang berbeda-beda. Akhirnya, hal ini rentan menimbulkan persengketaan di antara sesama Muslim.

Pemahaman tauhid tersebut juga sulit terealisasikan dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari. Sebab itu, perlu pengkajian tauhid yang mendalam dan praktis perlu digalakkan di masyarakat umum. Ini akan menjadi langkah awal untuk memulai semua perubahan sosial yang lebih baik.

Pada tingkatan yang mendalam, pemahaman akidah dapat mempersatukan semua perbedaan di tengah umat.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...