Bukan Pertama Kali Terjadi, RI Batalkan Keberangkatan Jemaah Haji

Kementerian Agama RI membatalkan pemberangkatan jemaah haji tahun ini (2020/1441 H), tapi ternyata ini bukan yang pertama kali terjadi.

Pada tahun 1946, 1947 dan 1948 jemaah haji Indonesia juga pernah batal diberangkatkan dengan pertimbangan adanya kondisi perang dengan Belanda.

Pembatalan pemberangkatan ibadah haji tahun ini secara resmi disampaikan oleh Menteri Agama RI Fachrul Razi melalui channel YouTube, Selasa (2/6/2020).

“Pemerintah memutuskan tidak memberangkatkan jamaah haji pada 2020 atau tahun 1441 Hijriah,” kata Menag.

Keputusan diambil setelah pemerintah mempelajari berbagai pertimbangan, selain karena wabah covid-19 yang belum juga mereda, alasan lain karena pemerintah Arab Saudi sampai saat ini belum juga membuka akses bagi negara mana pun akibat pandemi covid 19.

Menurut Menag, tidak mungkin lagi memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan, utamanya dalam pelayanan dan perlindungan jemaah,”papar Menag.

Pembatalan dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 494/2020 setelah dilakukan kajian mendalam dan komunikasi dengan Pemerintah Arab Saudi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Komisi VIII DPR RI.

Pembatalan tesebut berlaku bagi seluruh warga Indonesia baik jamaah reguler maupun jamaah haji khusus serta jamaah mujalamah yang diundang oleh Pemerintah Arab Saudi.

Dari tahun ke tahun, jumlah jemaah haji asal Indonesia selalu meningkat. Mengutip katadata tahuh 2018, jemaah haji Indonesia mencapai angka 203.350 jiwa, naik 0,13% dari tahun sebelumnya sebesar 203.070.

Peningkatan tertinggi terjadi pada 2017 yang mencapai 31,5%. Peningkatan ini seiring dengan penambahan kuota menjadi 221.000 orang. Tahun lalu (2019), jumlah jemaah haji asal Indonesia mencapai 215.377 dari 529 kelompok terbang (kloter).

Tahun 2020, menurut Kemenag kuota jemaah haji untuk Indonesia sebanyak 221.000 orang. Jumlah ini terdiri dari 203.320 kuota haji reguler dan 17.680 kuota haji khusus.

Namun, sejak akhir Februari 2020 lalu, pemerintah Arab Saudi telah menghentikan sementara kunjungan jemaah umrah ke Tanah Suci, Mekkah, termasuk dari Indonesia. Pelarangan kunjungan masih juga belum dicabut hingga menjelang pelaksanaan ibadah haji tahun ini yang jatuh pada bulan Juli nanti.

Pelarangan ibadah haji Indonesia di masa kemerdekaan

Beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, tidak perjalanan ada ibadah haji yang difasilitasi pemerintah Indonesia.

Menurut data majalah Tempo ed. 24 april 2011, mengutip data Departemen Agama RI, salah satu alasannya adalah keadaan yang masih sulit dan genting.

Setelah merdeka, Indonesia tidak serta-merta mendapatkan keamanan dan pengakuan kedaulatan, apalagi kemakmuran.

Penjajah Belanda yang membonceng Sekutu NICA pun waktu itu berusaha kembali ke Indonesia. Bangsa Indonesia menghadapi ini dengan perang fisik hingga diplomasi. Maka terjadi agresi militer Belanda I dan II.

Jemaah haji asal Martapura Kalimantan. (Dok. KITLV -Tropenmuseum)

Tokoh utama NU, yang juga Rais Am Masyumi waktu itu, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa tidak wajib beribadah haji ketika negara dalam keadaan perang. Fatwa tersebut kemudian menjadi Maklumat Menteri Agama RI Nomor 4 tahun 1947, yang menyatakan ibadah haji dihentikan selama negara dalam keadaan genting.

KH Hasyim Asy’ari berpendapat bahwa ibadah haji pada tahun itu haram karena tidak memenuhi syarat rukunnya yaitu isthitha’ah (kemampuan) dari sisi keamanan mapun belum dimilikinya kapal pengangkut, sementara yang ada adalah milik Belanda.

Belanda marah dengan fatwa ini, mereka tetap ingin mengambil hati para tokoh ulama muslim Indonesia dengan menghadiahinya ibadah haji. Walhasil, ada saja jemaah yang berangkat lewat fasilitas belanda.

Tapi ketika itu, para mukimin Indonesia di Arab Saudi enggan melayani jemaah haji Indonesia yang pergi dengan fasilitas penjajah. Pelayanan ibadah haji oleh pemerintah RI baru resmi dibuka pada tahun 1949 setelah merdeka secara penuh.

Bagaimana dengan pahala hajinya?

Bagaimana dengan pahala seorang muslim yang gagal berangkat haji karena pandemi. Dalam Islam, ibadah diukur dari niatnya. Jika niat berangkat haji sudah tulus dan ikhlas, pembatalan keberangkatan karena satu dan lain hal, bahkan karena sakit atau kematian tentu saja tidak akan membatalkan pahala ibadah hajinya.

Terlebih, banyak riwayat yang menceritakan tentang orang yang memperoleh pahala haji meskipun ia belum sempat memijakkan kakinya di Tanah Suci.

Seperti kisah tetang seorang sufi bernama Abdullah bin Mubarak. Ketika ia melakukan perjalanan ibadah haji, ia kasihan melihat seorang perempuan dan anak-anaknya yang terpaksa memakan bangkai karena saking miskinnya.

Hati Abdullah bin Mubarak menangis, ia lantas menyedekahkan keledai tunggangannya beserta barang-barang bawaannya kepada keluarga malang itu. Perjalanan hajinya tertunda karena perbekalan haji habis. Ia pun pulang ke kampung halaman.

Sampai kampung halaman, alangkah terkejutny ia karena mendapat sambutan luar biasa dari orang-orang sekampung yang juga baru datang dari ibadah haji.

Abdullah bin Mubarak malu dan menceritakan bahwa ia gagal pergi haji. Tapi orang-orang yang berhaji itu mengaku bahwa ia ada di Mekah, bahkan membantu mereka membawakan bekal, memberi minum, atau membelikan sesuatu.

Pada malam harinya, Abdullah bin Mubarak bermimpi dan mendapat jawaban dari semua keanehan yang dialaminya. Dalam tidur, ia mendengar suara, “Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji.”

Komentar
Loading...