Bukti Cinta Dengan Berkurban

Jakarta – Jangan mengaku emas bila takut api. Cara ampuh untuk membuktikan sesuatu itu emas sungguhan atau bukan adalah dengan membakarnya hingga lumer dan mencair. Semua material yang bukan emas akan mengapung di permukaan. Hanya cairan emas yang mengendap di bawah. Rupanya, menjadi mulia memang tak cukup hanya dengan pengakuan, dibutuhkan adanya pembuktian. Apalagi cinta. Tak ada cinta tanpa pengorbanan.

“Apakah manusia-manusia itu menyangka, mereka akan dibiarkan saja berkata: ‘kami beriman!’, padahal mereka belum diuji.” (QS al-Ankabut/29:2).

Nabi Ibrahim diuji dengan ujian yang sangat berat. Sudah mendekati seratus tahun usianya, belum juga dikaruniakan anak. Ketika akhirnya Siti Hajar melahirkan Ismail, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan Siti Hajar dan bayinya, Ismail, di lembah Bakka (kemudian dikenal Makkah), lembah yang dikelilingi gungung-gunung batu di tengah gurun pasir yang panas dan kering kerontang, tanpa ada pepohonan dan pemukiman. Hingga belasan tahun kemudian, Nabi Ibrahim diperintahkan menjenguk kembali isteri dan anaknya itu.

Dari Kan’an (sekarang Palestina) Nabi Ibrahim berjalan waswas. Khawatir yang akan dijumpainya di Makkah nanti hanya sisa-sisa tulang belulang isteri dan anaknya yang sudah mati kekeringan. Tetapi itu tidak terjadi. Nabi Ibrahim mendapati Ismail, anak lelaki semata wayang, telah tumbuh menjadi pemuda yang tegap dan rupawan.

Nabi Ismail adalah blasteran (indo). Ayahnya, Nabi Ibrahim, berasal dari negeri al-Urr (di bagian Selatan Iraq) yang termasuk etnis Persia. Posturnya tinggi dan berkulit putih. Ibunya, Siti Hajar, mantan budak negro dari Ethiopia (Arab – Habsyah, Latin – Abessinia) yang dijual ke Mesir, lalu dimerdekakan oleh Siti Sarah (isteri pertama Nabi Ibrahim). Posturnya juga tinggi dan tegap. Maka wajar Nabi Ismail yang keturunan campuran dari keduanya itu juga bertubuh tinggi, tegap dan gagah, serta berkulit terang tampan rupawan.

Bersuka citalah Nabi Ibrahim saat menjumpai anaknya yang sudah tumbuh menjadi pemuda gagah rupawan itu. Tetapi di malam harinya, melalui mimpi, Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih sang putra. “Wahai putraku, melalui mimpi aku mendapatkan perintah dari Tuhanku untuk menyembelih engkau, bagaimana pendapatmu?”

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,” (QS ash-Shaffaat/37:102).

Sang putra menjawab: “Lakukanlah apa yang diperintahkan kepada ayah; akan ayah lihat, insya Allah, aku termasuk orang yang tabah”. Jawaban itu menunjukkan sikap pasrah dalam taat kepada Allah SWT. Jawaban yang berbasis tawhid. Ismail tahu betul, iman tidak bermakna kecuali dengan pengorbanan. Tiada ketaatan tanpa pengorbanan. “Kurban adalah puncak pengabdian penuh cinta dari seorang hamba kepada Allah, kekasihnya”.

Pengorbanan Sang Ibu
Tapi, bukankan Nabi Ibrahim sudah meninggalkan sang putra sejak saat bayinya, dan baru kali itu berjumpa lagi? Lalu siapa yang menta’dibkan jiwa tawhid pada pada sang putra? Siapa lagi kalau bukan ibunya, Siti Hajar. Siapa itu Siti Hajar? Mantan budak (kelas sosial terendah), orang negro Ethiopia yang hitam. Oh…, rupanya hitam kulitnya, tetapi di dalam qalbu sang ibu ada jiwa tawhid yang putih bersinar. Ia mantan budak rendahan, tetapi di dalam jiwanya ada cahaya iman yang cemerlang, yang memuliakannya di hadapan Allah SWT dan manusia.

Demi cintanya kepada Allah SWT, kepada sang suami, juga kepada sang bayi yang baru dilahirkannya, Siti Hajar rela berkorban menjalani hidup yang keras ditinggal di lembah Bakka yang panas dan kering kerontang. Pengorbanan yang aktif, bukan sekadar pasrah bongkokan. Ia berkeliling, bahkan mendaki bukit Shafa dan Marwah berulang-ulang untuk mencari air minum. Sa’i berasal dari kata sa’aa yang artinya berjuang mencari penghidupan (striving for the life). Akhirnya, demi cintanya kepada Allah pula ia rela melepas Ismail sang putra untuk dikorbankan oleh suaminya.

Banyak kaum rendahan di negeri ini telah berkorban untuk keutuhan dan kesejahteraan bangsanya. Para petani, penggembala, nelayan dan buruh berupah rendah, bekerja siang dan malam untuk penghasilan yang tak seberapa, namun profit margin terbesar dinikmati oleh para saudagar besar di kota besar, juga pejabat birokrat pengutip pajak yang selalu dianggap bermartabat. Dengan bismillah mereka mengawali kerja, demi iman kepada Allah mereka berusaha. Mereka tahu, usaha mereka hanya memberikan hasil yang tak seberapa di dunia, tapi itulah ibadah. Mereka tahu “kurban adalah puncak pengabdian penuh cinta dari seorang hamba kepada Allah, kekasihnya”.

Kita adalah ayah dan ibu bagi anak-anak bangsa ini. Ada yang dhu’afa (lemah secara intrinsik, mungkin karena terlahir cacat dan membawa penyakit turunan), tapi ada juga yang mustadh’afiin (lemah karena terlemahkan!). Mereka adalah orang-orang yang sehat dan kuat jismani rohani, inetelektual dan emosional, tetapi sistem sosial telah melemahkan mereka. Kebijakan ekonomi dan politik meminggirkan mereka. Mereka adalah anak-anak bangsa yang lemah dan terlemahkan. Ayah dan ibu yang baik adalah ayah ibu yang rela berkorban untuk anak-anaknya yang lemah. Kalau betul mencintai Allah cintailah Rasulullah; kalau betul mencintai Rasulullah cintailah orang-orang yang dicintai Rasulullah, mereka adalah para dhu’afa dan mustadh’afiin. Ayo kita berkurban karena “kurban adalah puncak pengabdian penuh cinta dari seorang hamba kepada Allah, kekasihnya”.

“To Love is To Sacrifice” – “Mencintai adalah Berkurban”
Ketika Ismail sudah dibaringkan tengkurap, karena kalau ditelentangkan sang ayah tak akan sanggup menatap wajah si anak yang dicintainya, dan pedang pun sudah terangkat tinggi-tinggi siap untuk ditetakkan, Allah SWT berkata: “Cukup! Itu hanya ujian bagimu. Akankah cinta dan taatmu kepada Tuhan akan terkalahkan oleh cintamu kepada anak yang sangat rupawan itu”. Allah SWT pun memunculkan seekor kambing besar untuk disembelih sebagai pengganti.

Dalam mencintai Allah tak boleh ada kesetiaan yang terpecah. Harus dipilih, yang mana yang Paling Dicintai, selebihnya hanya boleh berada pada urutan berikutnya. Yang berikutnya pun, kalaupun dicintai juga, harus dengan merujuk (ada referensi) pada cinta kepada Allah.

Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS at-Tawbah/9:24).

Damm artinya darah. Dengan berkurban maka tertumpahlah darah yang menjadi simbol kehidupan. Beberapa ibadah dalam Islam, kalau terjadi pelanggaran dalam pelaksanaan ibadah tersebut, upaya menutup (kaffarah) pelanggaran itu adalah dengan menumpahkan darah melalui penyembelihan hewan. Kaffarah dengan damm. Bukan berarti Allah SWT, Tuhan umat Islam, atau ajaran Islam itu sendiri, sangat menyukai darah, atau senang dengan pertumpahan darah. Darah adalah kehidupan. Demi bakti dan taat dalam beribadah kepada Allah seorang muslim harus melakukannya dengan penuh kesungguhan, sepenuh ia menjalani kehidupan ini. Seorang muslim pun rela kehilangan kehidupannya di dunia ini demi ibadahnya kepada Allah SWT, karena kehidupan yang hakiki adalah kehidupan di sisi Allah SWT. Siapa yang sungguh-sungguh mencintai Allah maka berkurbanlah. “Kurban adalah puncak pengabdian penuh cinta dari seorang hamba kepada Allah, kekasihnya”

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS al-Hajj/22:37).

Oleh: KH. Wahfiudin Sakam

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...