Cahaya di Langit Tiongkok (Bag.2)

Cahaya di Langit Tiongkok (Bag.2)

Ditulis oleh: KH. Ali M. Abdillah (Idarah Aliyah JATMAN, Dosen Pasca UNUSIA) saat memenuhi undangan mengunjungi pusat pengembangan tarekat di Kunming, Tiongkok selama 8 hari (11/11 – 19/11).

Ziarah Makam Auliya, Syaikh Umar Syamsuddin

Setelah selesai sowan kepada Syaikh Muhammad Habib al-‘Alim saya diajak untuk ziarah ke beberapa makam para auliya’ penyebar Islam di wilayah Kunming, Tiongkok.

Makam pertama yang kami kunjungi adalah Syaikh Umar Syamsuddin yang berasal dari Bukhara. Letak makamnya berada di perbukitan. Beliau merupakan keturunan Rasulullah SAW ke-27 yang menyebarkan Islam pada abad ke-13 di wilayah Kunming dan sekitarnya. Salah satu keturunan Syaikh Umar Syamsuddin yang paling dikenal di Tiongkok adalah Laksamana Chengho.

Makam Syaikh Umar Syamsudin dibangun dan dirawat dengan baik oleh Pemerintah Komunis Tiongkok. Ada kejadian menarik, suatu hari penjaga makam (non muslim) melihat sosok laki-laki berjubah hijau sedang duduk di sekitar makam. Dengan segera ia menyampaikan kepada rekan-rekan lainnya tentang sosok tersebut. Setiba di makam ternyata tidak ditemukan wujud Syaikh berjubah hijau itu.

Setelah si penjaga makam diberitahu bahwa sosok laki-laki berjubah hijau itu adalah Syaikh Umar Syamsudin, seketika ia langsung menyatakan masuk Islam.

Menurut keyakinan umat Islam berpaham Aswaja, para auliya sesungguhnya tidak mati namun mereka tetap hidup sebagaimana dijelaskan dlm ayat al-Qur’an.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170).

Makam ini sering diziarahi oleh para jamaah tarekat Naqsabandiyah. Saat ziarah saya diminta untuk memimpin tahlil. Ternyata tahlil di sana sama persis urutan bacaanya dengan tahlil ala NU. (Ali)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *