Cahaya di Langit Tiongkok (Bag.4)

Cahaya di Langit Tiongkok (Bag.4)

Ditulis oleh: KH. Ali M. Abdillah (Idarah Aliyah JATMAN, Dosen Pasca UNUSIA) saat memenuhi undangan mengunjungi pusat pengembangan tarekat di Kunming, Tiongkok selama 8 hari (11/11 – 19/11).

Ziarah Makam Auliya, Para Guru Mursyid Naqsabandiyah

Perjalanan dari kota Kunming menuju Mojiang ditempuh sekitar 4 jam melalui jalan tol yang menembus bukit dan gunung. Setelah masuk kota Mojiang lalu menuju sebuah desa di perbukitan mulai nampak menara Masjid Darus Salam. Masjid ini dibangun sekitar dua abad yang lalu oleh Syaikh Abdullah, kakek dari Syaikh Muhammad Habib al-‘Alim.

Syaikh Abdullah dimakamkan di bukit yang berada di depan Masjid. Jalan menuju makam sangat teduh sekali karena kiri kanan dipenuhi pohon-pohon besar yang menjulang. Di depan Masjid sebelah kiri terdapat bangunan asrama santri tingkat menengah. Para santri selain belajar ilmu nahwu, sharaf, fikih juga belajar praktek dzikir tarekat naqsabandiyah secara rutin.

Para santri sangat disiplin dalam melaksanakan shalat berjamaah dan shalat sunnah. Mereka dididik secara ketat baik ilmu lahir maupun batin supaya kelak mereka menjadi penerus menegakkan kalimat Allah di negeri China.

Setelah ziarah ke Syaikh Abdullah, kami melanjutkan perjalanan ke Yuanjiang selama dua jam untuk mengunjungi makam para Mursyid Tarekat Naqsabandiyah.

Disini ada beberapa makam yaitu Syaikh Wiqayatullah, Syaikh Saiduddin, Syaikh Syamsuddin, Syaikh Abdul Khallaq. Jaringan Tarekat Naqsabandiyah di China pertama kali disebarkan oleh Syaikh Wiqayatullah setelah pulang mondok dari Yaman. (Ali)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *