Cara Abah Anom Mendidik Muridnya Ikhlas

Suatu kali ada ikhwan datang dari sebuah daerah yang memerlukan pembinaan terhadap para ikhwan yang sudah banyak di daerahnya. Ia berkunjung ke madrasah dan berjumpa dengan Abah Anom,

“Abah, ikhwan di daerah kami sudah banyak, dan kami memerlukan ada Ajengan yang membina mereka secara rutin, kami mengharapkan Abah menunjuk dan mengutusnya untuk membina kami,” kata Ikhwan tersebut kepada pangersa Abah Anom.

“Ya… sebentar, Abah akan memanggil Ajengan yang Abah akan tugaskan ke daerahmu. Kamu silakan menunggu di sini,” ucap Abah Anom.

Abah meminta pelayannya untuk memanggil Ajengan Fulan. Saat Ajengan Fulan tiba di Madrasah dan bersalaman dengan Abah. Abah memperkenalkannya kepada tamu, “Ini Ajengan Fulan yang Abah akan utus membina ikhwan di daerahmu. Permisi sebentar, silakan kamu tetap duduk di sini, Abah ingin bicara dengan Ajengan Fulan dulu,” kata putra dari Syekh KH. Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad tersebut.

Abah lalu bicara dengan Ajengan Fulan, “Tamu yang Abah perkenalkan pada Ajengan tadi, datang untuk meminta seseorang yang dapat membina mereka secara rutin. Abah meminta Ajengan untuk membina mereka secara rutin. Abah mengharapkan Ajengan ikhlas mengemban tugas ini,” pinta Abah. Baca juga…

“Baik Abah,” kata Ajengan Fulan.

“Ajengan sekarang boleh kembali melanjutkan kegiatan yang tadi ditinggalkan,” sambung Abah.

Setelah Ajengan Fulan keluar dari Madrasah, Abah memanggil kembali tamu, dan berkata, “Abah sudah meminta Ajengan Fulan untuk membina ikhwan di daerahmu secara rutin. Ia bersedia. Agar ia ikhlas dalam mengemban tugas ini, tugasmu dan ikhwan di kampungmu mohon memikirkan kendaraan jemputannya sehingga Ajengan Fulan mudah datang dan pulang, dipikirkan makan minumnya, juga dipikirkan pengganti lelahnya,” jelas penyusun kitab Miftahus Shudur tersebut.

“Baik, Abah, Insya Allah kami perhatikan,” jawab ikhwan tersebut.

Oleh: H. Asep H. Gani, Psi

#abahanom #asephaerulgani #anak

Rekomendasi
Komentar
Loading...