Cara Jitu Beriklan di Era Digital

“Pada dasarnya komunikasi merupakan proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa, dan dengan akibat atau hasil apa?” demikian kata Harold Dwight Lasswell, seorang ilmuwan terkemuka di Amerika yang juga pencetus teori komunikasi.

Beriklan pada dasarnya merupakan proses berkomunikasi. Setiap orang yang berupaya mengenalkan dirinya, memberitahu keunikannya, pada dasarnya sedang melakukan proses mengiklankan.

Lantas, bagaimana cara beriklan efektif di era digital seperti sekarang?

Anggun Triadi, praktisi periklanan yang juga seorang dosen advertising di Kwik Kian Gie School of Business, membongkar rahasia bagaimana cara efektif beriklan di era digital kepada para peserta pelatihan TQN Preneur.

Menurutnya, syarat utama untuk beriklan secara efektif adalah komunikasi harus berlangsung dua arah. “Kita sering lupa, kita ngomong ke siapa?” kata Anggun saat menyampaikan coaching online kepada peserta pelatihan yang diselenggarakan TQN News itu, Jumat 19/6/2020.

Secara simpel ia menyampaikan bahwa dalam beriklan di media manapun, termasuk di media sosial, orang pada dasarnya beranjak dari tiga pertanyaan: pertama, namanya siapa?; kedua, keahliannya apa?; ketiga, buat apa kenal dengan dia.

Maka, jika diaplikasikan dalam sebuah produk, akan dihasilkan tiga identifikasi yang harus diiklankan atau dikomunikasikan kepada konsumen/penerima manfaat, yaitu: nama brand, keunikan produk, serta manfaat untuk konsumen.

“Pertama, nama brand tentu harus bagus dan kuat. Kedua, produk harus punya keunikan agar konsumen bisa mencirikan, dan ketiga, apa yang kita jual tersebut harus ada korelasinya dengan konsumen. Tiga hal ini adalah tahap awal dalam berkomunikasi. Tanpa diawali dengan tiga hal tersebut, komunikasi akan menjadi sia-sia,” tandas aktivis Stand Up Paddleboard Indonesia.

Beriklan di Era Digital

Mengiklankan diri di era digital tentu berbeda dengan cara konvensional. Jika dulu, mungkin cukup menggunakan strategi membujuk untuk menginformasikan keunggulan-keunggulan produk, lalu memberikan sampling sehingga orang tertarik untuk membeli. Tapi di era digital, di mana informasi sangat berlimpah cara itu saja tidak cukup.

Menurut Anggun, pada dasarnya sebuah iklan tidak bisa berdiri sendiri, ia harus didukung oleh kualitas produknya.

“Tugas iklan itu hanya menggiring orang untuk mencoba. Kalau produknya tidak bagus, tetap saja orang tidak akan balik lagi,” kata dia.

Lebih-lebih, kata dia, beriklan di era digital, di mana paling efektif adalah yang bersifat sharing.

“Jadikan konsumen itu sebagai media iklan itu sendiri. Membuat mereka terdorong untuk berbagi pesan tentang produk atau jasa kita kepada orang lain, tanpa kita minta,” jelas Anggun.

Di sinilah pentingnya komunikasi dua arah antara produsen dan konsumen. Konsumen di era informasi berlimpah, tidak cukup diberi informasi tentang produk, mereka butuh diajak ber-eksperience.

Ia mencontohkan, gerai kopi Starbuck yang tidak hanya berjualan kopi tapi juga menjual eksperience, seperti bagaimana konsumen diajak meracik kopi bersama dengan baristanya, lalu memberikan pengetahuan tentang biji kopi ke pelanggan dan lain sebagainya.

“Dengan membuat orang involve terhadap produk kita, jualan kita jadi sustain. Orang tidak hanya beli sekali, tapi repeat order,” jelasnya.

Dia mengingatkan, bahwa menggunakan influencer untuk mengiklankan sebuah produk akan tidak efektif jika kualitas produk itu sendiri tidak mendorong orang lain untuk membuat testimoni positif kepada banyak orang.

“Di era digital seperti sekarang, bisa jadi itu mindset yang salah,” tandasnya.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...