Cara Menyusun To Do List Skala Prioritas

Menyusun to do list harian menjadi penting agar waktu lebih optimal dan produktif. Jangan sampai, apa yang akan Anda kerjakan justru jadinya berantakan.

Selain itu agar tidak bingung dalam menyusun to do list ini, Anda perlu mengetahui mana yang harus dikerjakan lebih dulu, mana yang bisa diselesaikan nanti. Di sinilah skala prioritas menjadi penting untuk mengelompokkan jenis kegiatan.

Stephen R. Covey, dalam bukunya First Things First (Dahulukan Yang Utama) menjabarkan bagaimana konsep manajemen prioritas berdasarkan dua indikator utama yakni penting dan mendesak dalam bentuk empat kuadran.

Kuadran pertama menyangkut hal-hal yang penting dan mendesak. Kuadran kedua, hal-hal yang bersifat penting namun tidak mendesak. Kuadran ketiga, masuk pada kategori hal-hal yang tidak penting dan mendesak. Sedangkan yang keempat, ialah hal-hal yang tergolong tidak penting dan tidak juga mendesak.

Empat kuadran tersebut bisa membantu Anda untuk mengelompokkan tugas dan mengkategorikan aktivitas agar lebih terorganisir dan tepat sasaran.

Skala prioritas ini juga diajarkan dalam Islam. Seorang muslim yang baik mampu berpikir, berucap dan bersikap dalam skala prioritas. Nabi bersabda, “Baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadis ini bicara tentang pentingnya bagi kita untuk meninggalkan sesuatu yang tidak kita perlukan, tidak bermanfaat, dan tidak mengundang ridha Allah SWT.

Ibnu Rajab Al Hanbali menerangkan bahwa hal yang tidak bermanfaat itu disusun berdasarkan prioritas untuk ditinggalkan. Pertama ialah meninggalkan hal yang haram (al muharramat), kedua, meninggalkan hal yang syubhat (al musytabihat), ketiga, meninggalkan hal yang makruh (al makruhat) serta keempat, ialah meninggalkan hal-hal mubah yang sebetulnya tidak kita perlukan (fudhulul mubahat allati la yahtaju ilaiha).

Imam Al Ghazali berkata, seandainya engkau habiskan waktu bicaramu (yang tidak penting dan tidak berfaedah) untuk berzikir dan berpikir maka akan terbuka rahmat Allah bagimu. Hal tersebut lantaran selamat dari maksiatnya ucapan dan kerugian-kerugian lain yang disebabkan menyia-nyiakan waktu.

Apa yang disampaikan Hujjatul Islam tersebut mengindikasikan bahwa dalam Islam, skala prioritas patut menjadi tolok ukur. Hal tersebut juga sejalan dengan kaidah dalam ushul fiqih yang menyebutkan bahwa menolak kerusakan lebih diutamakan dibanding mengambil kemaslahatan. Sehingga muncul misalnya fiqih prioritas, untuk meletakkan amal sesuai skala prioritas.

Singkatnya, kesempurnaan Islam dan Imannya seseorang bisa dinilai dari bagaimana seseorang menentukan prioritas, apa yang mesti dipentingkan dan apa yang mendesak, apa yang seharusnya didahulukan dan diperlukan, serta apa yang utama untuk ditinggalkan.

Rekomendasi
Komentar
Loading...