Ceramah Maulid di Dakka Bangladesh

Berikut ini adalah point-point pidato KH. M. Ali Abdillah translasi dari bahasa arab yang disampaikan pada acara Miladun Nabi Muhammad SAW, yaitu:

  1. Perhelatan akbar Maulid Nabi SAW yang diselenggarakan oleh Shaykh Sayyid Saifudin Ahmad al-Hasani al-Husaini yang dihadiri ratusan ribu umat Islam di Dhaka Bangladesh merupakan bagian dari tradisi Islam Ahlus sunnah wal jamaah sebagai ekpresi kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Pengikut Aswaja yang tersebar di seluruh dunia mulai dari Mesir, Beirut, Tunisia, Jordania, Emirat Arab, Marokko, Eropa, Amerika, China, Rusia, Malaysia, Thailand, Brunei hingga Indonesia. Mereka secara rutin memperingati hari kelahiran Nabi Muhammmad SAW. Bahkan di Indonesia khususnya warga Nahdliyyin (NU) ada peringatan Maulid Nabi bersifat tahunan seperti tiap tanggal 1-12 Rabiul Awwal, mereka membaca al-Barjanji, al-Diba’l, Simtud Durar, ada pula bulanan seperti di Kanzus Shalawat tiap Jumat Kliwon yang dipimpin oleh Habib Luthfi bin Yahya, ada juga mingguan seperti di kampung-kampung dan pondok pesantren NU, mereka secara rutin membaca maulid Nabi tiap malam jumat atau malam Senin.
  2. Ratusan ribu umat Islam yg saat ini berkumpul bersama-sama di acara Maulid Nabi ini, mereka datang dari kampung-kampung dan berbagai negara karena didasari Cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Karena Cinta jarak jauh bukan menjadi halangan, sekalipun terik panas matahari menyengat mereka di siang ini mereka tetap duduk rapi dan tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduk karena di dalam hatinya sudah ada cinta kepada Baginda Muhammad SAW. Panas siang hari ini tidak sebanding panasnya saat di padang mahsyar. Siapakah yang bisa memberi syafaat saat umat manusia dalam kondisi penderitaaan di padang Mahsyar nanti? Jawabnya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Semoga kita umat Islam yang di dalam hatinya sudah tertanam benih cinta kepada Baginda Nabi Muhammmad SAW nanti akan bersama Nabi di surga dan mendapatkan syafaatnya kelak di yaumil mahsyar. Sesuai hadits Nabi yang bunyinya, “Barangsiapa mencintaiku niscaya dia akan bersamaku di surga.”
  3. Nabi Muhammad SAW mengajarkan Islam yang rahmatan lil-‘alamin yaitu Islam yang cinta damai, penuh kasih sayang dan saling menghormati. Namun untuk bisa menyebarkan Islam yang cinta damai kuncinya hatinya harus damai terlebih dahulu, hati bisa damai jika keyakinannya kepada Allah kokoh, memiliki cinta kasih terhadap sesama manusia dan hatinya senantiasa dipenuhi zikir mengingat Allah. Dalam al-Quran dijelaskan, “ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” Selain itu, supaya menjadi pribadi yang berakhlak mulia seperti Nabi Muhammad SAW harus belajar ilmu yang mengkaji diri yaitu ilmu tasawuf. Sebab di dalam diri manusia ada nafsu baik yang tercela maupun yang terpuji, maka untuk mencapai kesucian jiwa harus melakukan tazkiyatun nafsi yaitu menyucikan jiwa dari nafsu tercela menjadi nafsu terpuji.
  4. Kita sebagai umat Islam dalam mencintai Allah perlu wasilah makanya diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW sesuai ayat, “Katakanlah wahai Muhammad, jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku maka Allah akan mencintaimu. Namun ketika Rasulullah SAW sudah wafat kita akan mengikuti siapa? Yaitu mengikuti para ulama sebagaimana sabda Nabi, “Para ulama sebagai pewaris Nabi.” Zaman sekarang ini sudah bertebaran bermacam-macam ulama, lalu siapa ulama yang layak kita ikuti? Menurut Imam al-Ghazali yaitu ulama’ akherat yang layak diikuti karena mereka memiliki khasyatullah (takut kapada Allah), orientasi dakwahnya semata-mata mengharap ridha Allah dan didasari keikhlasan dalam membimbing umat. Mereka adalah pewaris Nabi, bukan ulama su’ yaitu ulama yang menjual agama demi kepentingan hawa nafsunya.

Dhaka, 3 Desember 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *