Dakwah di Amsterdam dan Strategi Nasi Kotak

Amsterdam – Masih ingat kisah dakwah Kyai Wahfiudin di Eropa tahun lalu? Saat itu Wakil Talqin TQN PP Suryalaya menyambangi beberapa komunitas muslim di Eropa untuk menyampaikan kajian tasawuf selama dua minggu. Salah satunya adalah Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) Al-Ikhlas Amsterdam. Tahun ini, setelah menghadiri event besar tahunan Web Summit di Lisbon, Portugal (6/11 – 9/11) bersama tim startup PT. Durio Indigo, Ia menyempatkan kembali mengunjungi mereka untuk melakukan pembinaan.

Minggu malam (13/11), PPME Al-Ikhlas Amsterdam menggelar kajian tasawuf. Jika tahun lalu mereka masih menyewa tempat untuk penyelenggaraan setiap aktifitas dakwah, alhamdulillah tahun ini mereka telah memiliki Pusat Budaya Indonesia (Masjid PPME Al-Ikhlas Amsterdam). Hal ini terjadi berkat kesungguhan jama’ah serta ridha Ilahi. Bangunan yang dibeli seharga 365 ribu Euro ini berlokasi di Jan Van Genstraat 140, 1171 GN, Badhovedorp.

KH. Wahfiudin berfoto di depan masjid PPME Al-Ikhlas Amsterdam

Dalam kajian selama dua jam, Kyai Wahfiudin memantapkan amaliyah dzikir TQN kepada sekitar 40 jamaah yang telah mendapatkan talqin dzikir tahun lalu. Ketua JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah) DKI Jakarta ini mengingatkan kembali tentang pengertian nafs serta urgensi memiliki wali mursyid. Dalam kesempatan tersebut praktek dzikir jahri dan khafiy juga dilakukan secara intens. Seperti yang sering diungkapkan, Ia berharap Amsterdam akan menjadi pintu gerbang masuknya dakwah TQN di Eropa.

Setelah memiliki gedung sendiri, kegiatan PPME Al-Ikhlas semakin bergairah. Ada pengajian bagi ibu-ibu, bapak-bapak, remaja bahkan anak-anak yang ingin belajar quran, tafsir, dan menghafal quran. Bahkan olahraga bareng juga menjadi program dakwah. Secara berkala mereka juga sering mengundang muballigh nusantara untuk memberikan pencerahan. Dalam pengiriman dai nusantara PPME Al-Ikhlas bekerjasama dengan Lembaga Dakwah PBNU.

Ada yang menarik dari kegiatan ibu-ibu. Setiap hari jumat dan minggu mereka memasak dan menjual nasi kotak komplit dengan harga murah dan rasa yang enak. Kegiatan ini ternyata mengundang saudara-saudara muslim dari berbagai negara untuk mampir ke masjid untuk menjalin silaturrahim. Akhirnya merekapun sering shalat berjamaah di masjid Al-Ikhlas mulai dari shubuh hingga Isya. Terlebih lagi saat hari jumat dan akhir pekan.

Kesuksesan kegiatan ibu-ibu dalam menjual nasi kotak berdampak sangat luas. Jama’ah bertambah, kegiatan semarak, pendanaan meningkat dan dakwah pun lancar. Ini berkat strategi dakwah dengan jurus nasi kotak. (Deb/Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...