Dakwah Ikhlas Karena Uang

Alkisah, ada seorang penebang kayu yang taat dan tinggal di sebuah hutan yang berdekatan dengan sebuah desa suku primitif. Para penduduknya menyembah sebuah pohon besar yang tumbuh di tengah desa mereka. Suatu hari si penebang kayu memutuskan untuk menebang pohon itu. Ia ingin menunjukkan pada mereka bahwa apa yang mereka itu salah. Yang mereka sembah itu tiada lain adalah makhluk ciptaan Tuhan juga. Yang harus mereka sembah itu Tuhan, sang Pencipta, bukan pohon.

Saat ia berjalan menuju hutan, seorang pria mencegahnya dan menanyakan ke mana ia akan pergi. “Demi Tuhan, aku akan menebang pohon yang disembah suku yang tinggal di tengah hutan ini.”

“Jangan! Tindakanmu salah,” pria itu mengingatkan.

“Siapakah kau hingga berani menghalangi maksudku?” tanya si penebang kayu.

“Aku adalah iblis. Aku tidak akan membiarkan dirimu menebang pohon itu.”

Si penebang pohon itu pun marah. Ia menarik sang iblis dan membantingnya ke tanah dan meletakkan kampaknya di leher sang iblis.

Iblis berkata, “Kau bersikap tidak masuk akal. Orang-orang suku itu tidak akan pernah membiarkan dirimu menebang pohon suci sesembahan mereka. Mereka mungkin juga akan membunuhmu. Istrimu akan menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim. Lagipula, kalau pun kau berhasil melakukannya dan selamat, mereka akan memilih pohon lain untuk disembah. Sia-sialah usaha dan pengorbananmu. Pikirkanlah!”

Pikiran logis sang iblis langsung merasuk ke benak si penebang kayu. Ia terpaku heran dan mulai berpikir.

Lalu iblis melanjutkan, “Aku akan memberikanmu tawaran. Aku tahu kau orang miskin, keluargamu banyak. Tapi kau orang yang taat ibadah dan suka membantu orang. Seitap pagi aku akan menaruh dua koin emas. Selain terhindar dari resiko kehilangan nyawa dan tidak memperoleh apa-apa, kau akan dapat menggunakan uang itu untuk kebutuhan keluargamu dan juga membantu orang-orang miskin di desamu.”

Si penebang kayu itu menyetujuinya. Besok paginya, benar ia menemukan dua buah kon emas di bawah tempat tidurnya. Ia pun membeli makanan dan pakaian baru untuk keluarganya dan membagikan sisa uangnya untuk orang-orang miskin di sekitarnya. Pada pagi berikutnya, penebang kayu itu tidak menemukan apa-apa di bawah tempat tidurnya. Ia mencari ke seluruh ruangan, dan tetap tak menemukan apa-apa.

Merasa dikhianati sang iblis, lelaki itu mengambil kampaknya dan langsung bersiap-siap pergi ke tengah hutan hendak menebang pohon itu.

Sang iblis kembali menghadangnya. Sambil tersenyum dia bertanya, “Kau mau pergi ke mana?”

“Dasar penipu! Pembohong! Aku akan menebang pohon itu!”

Iblis menyentuh dadanya dengan jari telunjuknya. Si penebang kayu itu langsung terjatuh ke tanah, lemas akibat kekuatan sentuhan tersebut. lalu, iblis menyentuh dadanya dengan satu jari tangannya lagi dan menekannya ke tanah. Sang iblis berkata, “Kau ingin aku membunuhmu? Dua hari lalu kau akan membunuhku. Berjanjilah, kau tidak akan menebang pohon itu!”

Si penebang kayu menjawab, “Aku berjanji tidak akan menebang pohon itu. Katakanlah satu hal kepadaku, dua hari lalu aku begitu mudah menjatuhkanmu. Tapi sekarang. Dari mana kau mendapat kekuatan yang luar biasa pada hari ini?”

Sang iblis tertawa dan menjawab, “Saat itu kau akan menebang pohon itu karena Allah. tapi hari ini, kau berkelahi denganku karena dua buah koin emas!”

Hikmah

Kisah ini mengingatkan kita betapa pentingnya niat. Sebuah amal yang mulia akan akan tak bermakna, bahkan sia-sia jika tidak disertai niat tulus karena Allah. Iblis bisa menyelinap kapan saja dan membelokkan niat kita secara halus, sehingga sering tak kita sadari.

Seseorang yang tampaknya begitu taat kepada Allah dan gemar menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, bahkan mungkin semangat memberantas bid’ah dan kemungkaran. Bisa jadi Allah menerima amal ibadahnya jika ia mampu menjaga keikhlasannya untuk Allah. Tapi tak menutup kemungkinan, tanpa ia sadari, iblis telah membelokkan niatnya untuk hal-hal lain selain Allah.

Maka, berhati-hatilah. Ini bisa menimpa siapa saja, kita semua.

“Duhai Tuhanku. Hanya Engkaulah tujuanku. Hanya ridha-Mu pencarianku. Anugerahilah aku kecintaan kepada-Mu, juga ma’rifat kepada-Mu.” (ccp)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...