Dakwah Tarekat di Korea Utara

Korea – Dalam rangka menjaga istiqamah dalam berdakwah maka lokasi sejauh atau sesulit apapun bagi KH Wahfiudin tidaklah menjadikannya hambatan. Begitupun dengan pengalaman beliau kali ini ke Korea Utara.

Hari pertama (4/2/2016), tiba di Sunan airport, Pyongyang pukul 16:00 local time, KH Wahfiudin bersama istri dijemput oleh Bapak & Ibu Isman, ikhwan & akhwat yang berdinas di KBRI Pyongyang, mereka didampingi oleh seorang staf lokal KBRI, Cecep.

Dalam perjalanan menuju tempat tinggal Bapak Isman, dimana KH Wahfiudin akan menginap selama beberapa hari ke depan, ada hal yang cukup menarik yaitu saat melewati makam Kim Jong II & Kim II Sung, Cecep harus memperlambat kendaraannya, sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri negara dan pemimpin yang agung (menurut warga Korea Utara). Memang setiap kendaraan yang melewati makam tersebut diwajibkan untuk memperlambat lajunya, karena apabila tidak maka akan menjadi pelanggaran berat.

Mereka begitu mendewakan kedua pemimpin ini hingga jenazahnya pun sampai saat ini masih diawetkan dan menjadi kegiatan resmi negara untuk seluruh warga dengan menziarahinya 5 – 6 kali dalam setahun.

Di Korea Utara, warga asing & warga lokal tidak diiznkan untuk berinteraksi secara langsung atau dengan kata lain tidak diizinkan bersosialisasi. Pemerintah telah menyediakan secara khusus wilayah tempat tinggal, restauran, supermarket/tempat belanja untuk orang asing.

Saat makan malam di suatu resto khusus orang asing, ada hal yang juga cukup menarik, yaitu terpajang foto seorang pria sedang memasak yang besarnya nyaris seluas dinding yang ada di sana. Lukisan ini dijaga oleh polisi selama 24 jam dan ada pembatas agar pengunjung tidak terlalu dekat. Bagi yang tidak tahu maka kita akan berfikir foto tersebut adalah foto pemilik resto, tapi ternyata bukan, melainkan foto mendiang Kim II Sung yang pernah berkunjung ke resto tersebut. Siapa sangka kekuasaan mendiang begitu kuat.

Hari Kedua (5/2/2016) melaksanakan pengajian di wisma KBRI dan dihadiri oleh keluarga besar KBRI Pyongyang serta Dubes Malaysia beserta istri, anak-anak & staf-nya, mereka begitu antusias mengikuti tausiah yang disampaikan KH Wahfiudin. Setelah tausiah, dilanjutkan dengan acara makan malam bersama. Dubes RI & Dubes Malaysia begitu tertarik dengan kajian beliau sehingga saat makan malam pun masih lanjut berdiskusi dengan sangat menarik.

Tinjauan beberapa topik yang berkaitan tentang Islam dari segi Quran, hadist, sejarah, politik dll. Allah Maha Tahu, Dia memilih seorang muballigh yang memiliki wawasan luas untuk diperjalankan ke negeri yang dikenal cukup tertutup itu (baca: Korea Utara) untuk memenuhi kehausan akan siraman ruhani & ilmu agama beberapa ummat Muhammad SAW yang berada di sana.

KH Wahfiudin adalah ulama pertama dari Indonesia yang berdakwah di negeri ini dalam sejarah hubungan diplomatik RI – Korea Utara yang dibina sejak zaman Presiden Soekarno. Bahkan Malaysia pun belum ada ulamanya yang berdakwah di negeri ini.

Hari ketiga (sabtu 6/2/2016) sore harinya dibuat pengajian untuk para ibu, tetapi ketika bapak-bapak mengetahui bahwa materi tidak khusus untuk wanita maka mereka pun segera ikut bargabung, bahkan termasuk Duta Besar.

Materi yang diberikan pada pengajian ini adalah tentang Mati dan Wafat. Pengajian ditutup dengan do’a bersama dengan penuh khusyu hingga nyaris semua jama’ah menitikan air mata. (hen)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...