Dari Antroposentris Menuju Allah Sentris 1/2

Dikutip dari buku COME – COnnected Meaningful Excellent – “Mendatangkan Keberkahan yang Mengubah Hidup Anda” karya Wahfiudin Sakam


Dalam bahasa Latin, manusia disebut anthropo. Dari situlah muncul istilah anthropo-centric: manusia sebagai pusat. Antroposentris dalam ejaan Indonesia.

Ketika seseorang meyakini bahwa manusialah pusat segalanya–atau pusat alam semesta sebagaimana yang diajarkan Renaisans Barat—pada akhirnya orang itu memikirkan sendiri semua masalahnya: kesehatannya, pendidikannya, keluarganya, dan masyarakatnya. Seorang antroposentris tidak percayaadanya kekuatan di luar dirinya –kekuatan metafisika—yang bisa membantu mereka mengatasi semua problematika kehidupan.

Semua masalah pun tersedot ke dalam dirinya. Ketika problematika kian terakumulasi dalam dirinya, kian menumpuk, dia mulai mengeluh. Ketika sampai pada suatu titik di mana ia tak kuat lagi menampung semua persoalan, dia kolaps, depresi, stres, akhirnya hancur.

Contoh perilaku manusia yang “sok” menampung semua permasalahan, sebut saja, ketika ia menyerap semua permasalahan yang seharusnya bukan masalahnya. Misal, orang lain yang punya masalah—entah itu masalah perceraian para artis, penipuan oleh oknum ustadz, dan masalah lainnya yang lazim ditayangkan oleh program infotainment—malah dia yang stres.

Padahal, itu, kan, bukan masalah mereka. Namun, informasi terserap masuk sekonyong-konyong ke dalam memorinya. Pada tahap lebih lanjut, masuk juga ke dalam perasaannya.

Dia hafal betul detail permasalahan yang semestinya bukan masalahnya. Lama-lama mereka merasa masalah itu masalah mereka juga. Inilah yang oleh Neil Postman disebut “kenyataan virtual yang meracuni persepsi manusia,” sebagaimana dipaparkannya dalam buku yang mengkritisi “doktrin televisi”: Menghibur Diri Sampai Mati.

Kembali ke permasalahan. Masalah yang tak perlu itu menambah beban pikiran mereka. Pasalnya, di luar itu, mereka sudah punya urusan sendiri terkait pekerjaan, istri dan keluarga, anak-anak, hingga lingkungan masyarakatnya. Beban yang sudah menumpuk itu harus ditambah lagi masalah perceraian artis.

Ketika semua masalah dia serap sendiri, dia tanggung sendiri, ,tak heran jika hidupnya jadi penuh beban. Dan inilah konsekuensi perilaku seorang antroposentris: merugikan diri sendiri.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...