Dengan Hujan, Kita Dipanggil

Hujan mulai mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Banjir bisa saja terjadi, warga Jakarta mulai panik. Hari-hari tak bisa tidur nyeyak terutama mereka yang di daerah rawan banjir.

Selaku orang beragama, apakah ini cobaan ataukah azab? Ini mungkin cobaan bagi orang-orang taat yang ingin Allah angkat derajatnya. Mungkin juga ini azab bagi orang-orang ingkar yang tengah diingatkan Allah untuk kembali.

Apapun itu, musibah tahunan ini patut dianggap sebagai peringatan Allah untuk kita semua. Selama ini banyak di antara kita semua lupa atau melupakan tuntunan-tuntunan hidup dari Allah. Hanya sedikit yang peduli dan patuh.

Sementara semua kemudahan hidup ada di Jakarta. Semua kemewahan hidup ada di Jakarta. Itu semua anugerah Allah. Tapi justru menjadi sebab menjauhnya kita semua dari Allah. padahal adzan berkumandang di mana-mana. Tapi hanya segelintir yang menyahut panggilan-Nya. Lebih sedikit lagi mereka yang menyahutnya dengan lahir dan batin, bukan sekedar datang ke masjid dan gerakan shalat.

Allah sayang kepada kita semua di Jakarta yang sudah jauh dari-Nya. Jauh dari-Nya berarti kesengsaraan dunia dan akhirat. Maka, Dia sering memanggil kita semua, yakni dengan segala kelapangan dan kenyamanan hidup. Ternyata kita tak juga mau kembali. “Terpaksa”, kita Dia pun memanggil kita dengan kesulitan hidup yang bertubi-tubi.

“Barangsiapa tidak menghampiri Allah dengan segala kenyamanan hidup yang Dia anugerahkan, ia akan diseret kembali kepada-Nya dengan ujian yang bertubi-tubi.” (Syaikh Ibn ‘Ataillah as-Sakandari, dalam Al-Hikam). (ccp)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...