Di Balik Amanat Pangersa Abah Anom

Tasawuf bukan saja barang asli bagi Islam, tetapi telah berjaya mengembalikan umat Islam kepada keaslian agamanya dalam beberapa kurun tertentu. Kurun-kurun pancaroba agama menjadi ruang khusus bagi tasawuf dengan memperlihatkan wajahnya di gelanggang penghidupan agama.

Tasawuf berpangkal pada pribadi Nabi Muhammad Saw. Gaya hidupnya sederhana, tetapi penuh kesungguhan. Akhlak Rasul tidak dapat dipisahkan serta diceraikan dari kemurnian cahaya al Qur’an. Akhlak Rasul itulah titik bertolak dan garis perhentian cita-cita tasawuf Islam itu. Demikian tulis KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin dalam sambutan Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya untuk buku TQN Sejarah, Asal-Usul dan Perkembangannya.

Di bawah bimbingan para Mursyid, TQN Pontren Suryalaya ingin mengembalikan umat Islam pada keaslian agama yang berpangkal pada Nabi Muhammad Saw.

Tanpa Nabi Muhammad Saw tidak akan ada agama, bahkan tidak akan ada manusia dan alam raya.

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyat: 56).

Allah Swt menciptakan alam raya adalah untuk beribadah. Demikian pula manusia yang tercipta untuk beribadah kepada Allah. Namun bagaimana bisa beribadah, taat, dan mengabdi kepada Allah tanpa kita mengenal-Nya, tanpa kita mengetahui tata caranya. Maka Allah Swt memilih Nabi Muhammad Saw sebagai hamba-Nya yang pertama dan manusia yang sempurna.

Nabi Muhammad Saw mengajarkan pilar-pilar agama yakni, Islam, Iman dan Ihsan sebagaimana disebutkan dalam hadis Jibril as. Sehingga tidak sempurna agama seseorang tanpa mengamalkan ketiganya. Baca juga…

Selain itu, Allah Swt juga telah meridhai Nabi Muhammad Saw sebagai teladan bagi manusia.

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab: 21).

Tanpa nabi Muhammad Saw, manusia tidak bisa merealisasikan tujuan penciptaannya untuk beribadah. Dengan perkataan lain, tanpa Nabi Muhammad Saw, manusia dan jin serta alam raya tidak akan dicipta. Sebab alam raya sendiri ditundukkan untuk manusia yang dicipta untuk beribadah kepada Allah Swt.

وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ وَٱلنُّجُومُ مُسَخَّرَٰتُۢ بِأَمۡرِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ

Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti, (An-Nahl: 12).

TQN Tanamkan Kecintaan pada Nabi Muhammad Saw

Maka Syekh Mursyid TQN Pontren Suryalaya dalam setiap ajaran dan amaliahnya tidak bisa melepaskan diri dari Nabi Muhammad Saw. Bahkan mereka sejatinya adalah ulama pewaris nabi yang menjalankan dan meneruskan fungsi Rasulullah Saw terutama dalam hal tazkiyah (penyucian dan pengembangan).

كَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِيكُمۡ رَسُولٗا مِّنكُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمۡ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui. (Al-Baqarah: 151).

Oleh sebab itu, murid-murid TQN Pontren Suryalaya diarahkan dan dibimbing untuk senantiasa dekat dengan Nabi Muhammad Saw, mencintai serta meneladani beliau. Ikhwan akhwat TQN Pontren Suryalaya diajak untuk menjalankan sunnah-sunnah nabi Muhammad Saw melalui keteladanan guru Mursyid dan ajarannya. Baca juga…

Dalam amaliah-amaliah TQN pun demikian, sangat terlihat betapa Guru Mursyid menekankan agar kita senantiasa membangun kecintaan dan hubungan silaturahim yang baik dengan nabi Muhammad Saw.

Dalam amaliah harian misalnya diawali dengan mengirimkan al fatihah kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarga, serta sahabat dan ahli baitnya. Itu dilakukan sebagai bentuk ta’dzim, hormat, rasa syukur yang tiada terkira, serta cinta yang paling utama kepada beliau. Maka Nabi Muhammad Saw mesti selalu menjadi prioritas yang mesti didahulukan sebagai tanda keimanan yang sempurna.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sampai aku menjadi orang yang paling dicintai dari orang tua, anak dan seluruh manusia (HR. Bukhari).

Hal yang sama juga kita temukan dalam amaliah khataman, ikhwan dan akhwat dilatih untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Tak bisa dijelaskan di sini betapa besar manfaat dan keutamaan shalawat yang juga sebagai bentuk syukur kepada Nabi Muhammad Saw.

Ini hanya sebagian contoh, betapa Guru Mursyid menolong murid-muridnya untuk menyambungkan ruhaniahnya dengan Rasulullah Saw serta meneladani akhlak beliau dalam kehidupan.

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ فِيكُمۡ رَسُولَ ٱللَّهِۚ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di dalam diri kamu ada Rasulullah. (Al-Hujurat, Ayat 7).

Termasuk dzikir yang diajarkan TQN adalah kunci bagi terbentuknya akhlakul karimah yang menjadi misi utama Rasulullah Saw.

Selain itu, metode dzikir TQN salah satunya berfungsi untuk mengobati penyakit qalbu agar sehat secara lahir batin. Bersihnya qalbu dari penyakit adalah sunah Rasulullah Saw.

يَا بُنَيَّ، إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لِأَحَدٍ فَافْعَلْ “. ثُمَّ قَالَ لِي : ” يَا بُنَيَّ، وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي، وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

Sahabat Anas bin Malik ra berkata, bahwa Nabi bersabda kepadaku: “Wahai anakku, jika kamu mampu pada pagi hari dan sore hari tanpa ada kecurangan dalam qalbumu kepada seorangpun maka lakukanlah,” kemudian beliau bersabda kepadaku: “Wahai anakku, hal yang demikian itu termasuk sunnahku, barangsiapa menghidupkan sunnahku, berarti dia mencintaiku dan siapa yang mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga.” (HR. Tirmidzi).

Maka dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa mengambil TQN adalah demi menjalankan sunah nabi itu sendiri.

Dari uraian di atas bisa dipahami dengan baik di balik amanat Pangersa Abah Anom pada tanggal 11 Rabiul Awwal 1389 H / 21 Mei 1969, untuk menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw dan agar cinta kita kepada beliau sebagai pemimpin terbesar dan teladan para wali Allah semakin mendalam. Baca juga…

“Abah menyeru kepada seluruh pemangku Manakiban. Sebelum pelaksanaan Manakib di Bulan Rabiul Awwal, agar diawali dengan pembacaan al-Barzanji walaupun hanya satu ayat. Syukur-syukur apabila Marhaba dan Shalawatnya juga dibaca. Selanjutnya setelah selesai membaca Berzanji, silahkan dilanjutkan pengajian Manakib.” Sebagaimana dikeluarkan oleh Div. Informasi dan Komunikasi LDTQN Suryalaya.

#rasulullah #abahanom #tasawuf

Rekomendasi
Komentar
Loading...