Distraksi Digital dan Pentingnya Tawajjuh

Melalui gawai yang terkoneksi dengan dunia digital, seseorang bisa memperoleh informasi, bertukar informasi, berkomunikasi hingga bekerja.

Namun sisi buruknya, gawai bisa mengalihkan perhatian kita dan tak jarang pada momen-momen penting dalam hidup. Sering kali keterikatan dengan gawai bukan hanya berlangsung saat sendirian, tapi juga saat beraktivitas bersama orang lain.

Gawai yang telah menjelma menjadi komputer seukuran saku itu bisa menghubungkan kita dengan semua orang dan membuat kita berkelimpahan informasi.

Tapi, lagi-lagi informasi yang berlimpah itu sering kali tidak kita butuhkan, tidak penting dan bukan hal yang masuk dalam list prioritas.

Padahal hampir semua orang terikat dengan gawainya masing-masing dengan keterikatan yang beragam. Melekatnya gawai di tangan menyebabkan sebagian dari kita menjadi amat ketergantungan (adiksi) bahkan hingga menyebabkan stres.

Menurut laporan We Are Social yang bekerjasama dengan Hootsuite, orang Indonesia mengakses media sosial selama 3 jam 14 menit per hari.

Distraksi Digital dan Pentingnya Tawajjuh
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Dari 274,9 juta penduduk Indonesia, 170 juta jiwa aktif menggunakan media sosial. Bahkan Indonesia masuk 10 besar penduduk yang gandrung dengan media sosial, dengan bercokol di posisi sembilan dari 47 negara yang dianalisis.

Sedangkan pengguna internetnya sendiri berjumlah 202,6 juta jiwa yang 96,4 persen di antaranya mengakses internet melalui ponsel pintar.

Untuk aplikasi yang paling banyak digunakan oleh netizen Indonesia secara berurutan ialah YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook lalu Twitter.

Ditraksi Digital

Sejatinya alat, termasuk gawai ialah untuk membantu manusia menyelesaikan tugasnya. Tapi kemudian manusia justru bisa diperbudak olehnya, dimanipulasi dan kehilangan fokus utamanya.

Kamu pasti pernah kan mendapatkan notifikasi yang muncul di ponsel lalu secara otomatis kamu buka, balas chat, tapi malah kebablasan buka aplikasi lain dan justru asik dengan foto dan video di Instagram, Facebook atau pun YouTube. Dan tak sadar tiba-tiba sudah 30 menit berlalu.

Distraksi Digital dan Pentingnya Tawajjuh
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Inilah yang disebut dengan distraksi digital atau gangguan digital. Kamu bisa kehilangan fokus dengan apa yang seharusnya kamu kerjakan.

Distraksi berasal dari kata distraction, dis and traction. Traction sendiri artinya daya tarik, yaitu hal-hal yang seharusnya menjadi fokus untuk kamu kerjakan yang menyedot daya tarik atau perhatian seperti sedang bekerja, belajar, atau menggarap proyek tertentu untuk tujuan tertentu.

Tetapi ketiga digabung menjadi distraction artinya berubah, yakni gangguan. Karena hal yang sedang menjadi fokus, perhatian dan daya tarik kamu tiba-tiba teralihkan. Sehingga lupa akan tujuan awal, abai terhadap yang prioritas.

Sehingga Co-Founder of the Digital Wellness Institute, Amy Blankson menilai bahwa distraksi digital merupakan epidemic yang merampok fokus kita, menurunkan produktivitas, serta mengurangi tingkat kepuasan hidup secara menyeluruh.

Masalah lainnya ialah efek jangka panjang dari distraksi. Linda Stone, mantan Software executive di Apple dan Microsoft menjelaskan, jika ia dan koleganya begitu sibuk mengawasi segala sesuatu hingga tak fokus pada apapun. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai “perhatian parsial yang terus menerus” atau “Continous Partial Attention (CPA)”.

Efek jangka panjang dari perilaku ini dapat memicu hormon stres adrenalin dan kortisol yang menyalakan peringatan ‘super’ psikologis yang senantiasa “menagih”, kemudian menimbulkan adiksi atau ketergantungan dengan cara “mengecek dan mengecek” lagi.

Distraksi Digital dan Pentingnya Tawajjuh
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Jika demikian, gawai yang seharusnya membantu kita untuk mempermudah urusan dan mencapai tujuan justru bisa jadi penghambat dan menjadikan kita sebagai budaknya bukan sebagai tuannya.

Oleh karena itu, pangkal dari distraksi itu ialah kendali diri kita. Karena distraksi akan selalu ada dalam berbagai variasi bentuk media dan situasinya. Distraksi bukan untuk kita bunuh, tapi kita kelola sebaik mungkin.

Di sinilah pentingnya kesadaran diri agar bisa mengontrol dan menahan hasrat untuk menuruti hawa nafsu untuk terhanyut dalam sibuk yang melalaikan, karena hal tersebut dibenci oleh Allah Swt.

Jadilah tuan dari ponsel pintar, karena distraksi digital bisa berpengaruh terhadap kesehatan dan kesuksesan kamu. Baik dalam bekerja, membangun keluarga harmonis serta mengabdi untuk agama dan negeri tercinta.

Dan senatiasalah bertawajjuh yakni menghadapkan wajah, qalbu dalam cinta dan ibadah demi karena Allah (lillah). Karena tawajjuh bisa memangkas ketergantungan pada selain Allah dan mengembalikan fokus dan perhatianmu. Sebab kemuliaan dan kehinaan seseorang akan bergantung pada apa yang menjadi fokus perhatiannya.

Rekomendasi
Komentar
Loading...