Dua Macam Rezeki Menurut Abah Anom

Sering kali makna rezeki disamakan dengan hasil usaha. Padahal tidak semua hasil usaha itu bisa disebut rezeki. Sebab rezeki itu adalah apa yang diperoleh dari hasil usaha sendiri atau pun orang lain yang kamu manfaatkan.

Kata kuncinya ada pada pemanfaatan dari hasil usaha tersebut. Karena kalau belum dimanfaatkan belum dinamakan rezeki.

Contoh saja, dapat uang dari hasil usaha satu juta rupiah. Yang seratus ribu habis untuk makan, sisanya disimpan. Maka yang seratus ribu itu yang masuk kategori rezeki. Sisanya belum dikatakan rezeki karena statusnya belum termanfaatkan atau digunakan.

Oleh karena itu, saat kehilangan uang biasa kita akan katakan bahwa uang itu belum rezeki. Artinya rezeki itu sederhananya apa yang habis dikonsumsi atau dipakai, seperti makanan yang habis dimakan dan pakaian yang dipakai hingga usang.

Termasuk rezeki juga ialah apa yang dibelanjakan di jalan Allah, apa yang disedekahkan atau pun sesuatu yang diwakafkan.

Jadi dari hasil usaha itu ada yang akan jadi rezeki, ada yang justru bisa jadi rezekinya ahli waris.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah yang disebut rezeki itu hanya yang halal atau yang haram pun disebut sebagai rezeki.

Dari sini ada yang berpendapat bahwa rezeki itu adalah setiap yang halal. Ada pula yang menilai bahwa rezeki itu ada yang halal dan ada rezeki yang haram tergantung dari cara memperolehnya.

Dua Macam Rezeki

Rezeki juga bukan hanya menyangkut sesuatu yang bersifat material. Karena ada yang dinamakan rezeki zahir dan rezeki batin. Yang zahir ini terlihat fisik dan wujudnya atau terjangkau panca indera (hissi). Sedangkan yang batin lebih bersifat abstrak (maknawi).

Dua Macam Rezeki Menurut Abah Anom
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Uang, pangkat, jabatan masuk kategori rezeki zahir. Sedangkan ketenangan batin, kebeningan qalbu, kecerdasan dinilai sebagai rezeki batin.

Jadi jangan lihat rezeki hanya yang bersifat material tetapi mengabaikan rezeki yang non material. Sebab keluarga yang rukun, lingkungan yang sehat, ilmu yang bermanfaat, waktu yang produktif, serta qalbu yang penuh cinta adalah rezeki.

Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin dalam kitabnya Miftahus Shudur menulis,

وقد قال العارفون أن رزق الظاهر بحركات الأجسام ورزق الباطن بحركات القلوب
وقد بين القرآن العظيم أن الذكر علاج لاضطراب القلوب وسبل لاطمئنانها

Para ulama ma’rifat berkata bahwa, rezeki zahir dengan pergerakan fisik, dan rezeki batin dengan pergerakan qalbu. Al Qur’an yang mulia telah menjelaskan bahwa zikir adalah penyembuh kekacauan qalbu dan jalan memperoleh ketengangan batin.

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Dari sini dapat dipahami bahwa rezeki ada dua macam, yaitu rezeki zahir dan rezeki batin. Dan yang menarik, Abah Anom menyiratkan bahwa untuk memperoleh kedua rezeki tersebut tidak hanya dengan berpangku tangan, tapi diperlukan usaha dan pergerakan (harakat).

Jika rezeki zahir diperoleh melalui usaha dan bergerak untuk menjemputnya, rezeki batin pun demikian. Ketenangan batin yang merupakan rezeki batin hanya bisa diperoleh dengan dzikrullah.

Artinya, Mursyid TQN Pontren Suryalaya seakan menekankan bahwa jangan hanya diam kalau ingin memperoleh rezeki, tapi harus mau bergerak dan berusaha. Dan jangan hanya mencari rezeki zahir tapi juga seimbang dengan rezeki batin.

Apa yang ditulis oleh putra Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad sesuai dengan jaminan rezeki bagi siapa yang bergerak di muka bumi.

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfuẓ). (Hud: 6).

Rekomendasi
Komentar
Loading...