Dzikir di Tanah Miring Maurauke

Tanah Miring – Hari ini 15 April 2017, Pangersa Abah Anom mempersaudarakan kami dengan para transmigran generasi pertama, kedua dan ketiga di Tanah Miring, Merauke. Dzikir jahar ba’da shalat subuh tadi begitu menggetarkan.

Di Distrik Tanah Miring, sejak 1990 sudah ada satu-dua murid Abah Anom asal Cilacap yang bertransmigrasi ke Tanah Miring, terutama di Satuan Pemukiman (SP) 9.

Pergerakannya sangat lambat, maklum murid Abah Anom ini petani biasa, yang mengandalkan amaliah semata, meski demikian, jika ia pulang ke pulau Jawa, satu persatu orang dibawanya ke Suryalaya untuk diberikan talqin Dzikir.

Tahun lalu, salah satu panah Pangersa Abah Anom, alumni program Khalwat TQN Center angkatan Pertama, yang awalnya khidmat di Ponpes Almujahadah Purbalingga Jateng, Ust. Nurcholis namanya, dengan beragam sebab, ‘diterbangkan’ ke Merauke, Papua.

Berbekal amaliah ilmiah dan ilmu amaliah yang ditimbanya selama di Pulau Jawa serta dasar khidmah kepada Mursyid, dia datangi satu persatu majlis dzikir di Tanah Miring.

Dijumpainya banyak masyarakat yang tertarik mengamalkan dzikir TQN Suryalaya, inisiatif pun dilakukan. Ia hubungi link-nya di TQN Center Jakarta Rawamangun untuk datang ke Tanah Miring.

Sejak kemarin, 14 April 2017, KH. Wahfiudin, Ust. H. Handri Ramadian dan Anis Lukman Hakim diperjalankan dari Jakarta menuju Tanah Miring, Merauke.

Pagi ini 16 April 2017, di tengah-tengah pematang sawah yang cukup luas dan sorotan sinar mentari pagi yang mulai terbit di ujung timur, puluhan orang peserta Pelatihan Kader Muballigh di Distrik Tanah Miring sedang khusyu’ melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Adalah Yayasan Ponpes Rohmatul Ummah Al Khadijah kawasan Satuan Pemukiman (SP) 2 yang menjadi tuan rumah. Pagi hingga siang (16/4) Ponpes ini akan melangsungkan haul pendirinya Alm. KH. Abdul Wahid. Panitia merencanakan KH. Wahfiudin sebagai pembicara dan insya Allah akan menyampaikan talqin dzikir untuk mereka. (Han/Hen)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...