Dzikir Sumber Pembangkit Energi Kehidupan Sepanjang Masa

Seluruh isi alam, penuh dengan variasi bentuk dan sifatnya mengandung energi. Satu dengan lainnya saling berkait, saling mendukung sesuai dengan kadar kapasitas yang diperlukan dalam keselarasan yang didasari pada keta’atan dalam keteraturan wajib sehingga terbentuk keharmonisan dalam keabadian.

Manusia, salah satu bagian isi alam memiliki peran sangat penting terhadap keselarasan dan keharmonisan elemen-elemen alam semesta, terutama pada dirinya sendiri yang merupakan miniataur isi alam semesta. Pada dirinya memiliki dimensi “basyar” dan dimensi “ruh”. Masing-masing dimensi sudah mengandung energi kehidupan luar biasa dahsyatnya, jika keduanya difungsikan paralel, seiring sejalan sesuai dengan kata kunci setiap dimensi.

Kedua kata kunci tersebut lebih dikenal dengan istilah dzikir Jahar untuk dimensi “basyar/jasad”, dan dzikir khafi untuk dimensi “ruh/bathin”. Sebagai kata kunci untuk mengaitkan dan berkait selalu kepada Masa Sumber Energi jangan sampai terjadi salah fungsi dan posisi. Untuk itu, diperlukan pembimbing/konsultan khusus untuk meningkatkan kualitas pemahaman yang mengarah pada kualitas amaliyah atau kerja seluruh elemen dalam diri yang selaras dan harmoni sesuai dengan tujuan keberadaan manusia di alam semesta ini.

Kualitas pemahaman terhadap kedua kata kunci tersebut menumbuhkan kesadaran yang lebih tentang kualitas energi kehidupan pada diri sendiri tidak lebih hebat daripada seekor semut yang kecil sekali pun. Atau mengarahkan pengenalan terhadap diri pribadi secara utuh, lahir – batin sehingga menumbuhkan amaliah “tazkiyyatun nafsi” dan amaliah “tashfiyyatun qalb” secara berkesinambungan. Dan mengarahkan pemahaman secara utuh terhadap sang Maha Sumber Energi, Dia Yang Maha Konkrit dan Maha Abstrak.

Ketersambungan energi pada elemen diri yang paralel, melalui dziki jahar dan dzikir khafi secara intens pada sang Maha Sumber Energi melahirkan sistem kerja diri yang harmonis pada diri sendiri dan lingkungan, karena seluruh amaliyah, asma, dan sifat diri merupakan perwujudan af’al, asma dan sifat sang Maha Sumber Energi di alam semesta ini. Pengaruh pancaran energi pada diri bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk diri-diri yang yang lain: Assalaamu’alaina wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalikhiin.

Oleh: M. Taswin Hafidz

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...