Empat Strategi Belanda Tumpas Habis Tarekat di Nusantara

Ulama-ulama tarekat pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 dinyatakan sebagai musuh nomor satu. Demikian tulis R.H. Unang Sunardjo, SH dalam buku Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya.

Penyusun buku Kerajaan Cerbon 1479-1809 itu menilai bahwa kekuatan yang dimiliki para ulama tarekat sangat besar pengaruhnya dan berbahaya bagi keamanan jalannya pemerintahan dan perekonomian kolonial Belanda di Indonesia. Sebabnya ialah ulama tarekat mampu mengobarkan pemberontakan dan perlawanan dalam waktu yang panjang.

Dari catatan para perwira militer Kompeni Belanda diketahui bahwa ulama yang mengamalkan tarekat memiliki peranan yang amat besar dan menentukan dalam setiap perang yang dilakukan Sultan-Sultan terhadap Belanda. Demikian juga dalam perlawanan rakyat secara sporadis di berbagai daerah di nusantara.

Misalnya perang Banten selama 24 tahun (1658-1682) di bawah Sultan Ageng Tirtayasa yang menjadi penasehat perangnya ialah Syekh Yusuf Al Makassari seorang Mursyid tarekat Khalwatiyah. Kemudian perang Padri di Sumatera Barat selama 17 tahun (1821-1838). Pimpinan yang paling terkenal ialam Tuanku Imam Bonjol (Muhammada Syahab) seorang ulama tarekat yang didampingi penasehat dan panglima pasukan yang kebanyakan ulama tarekat di antaranya tarekat Naqsyabandiyah, Qadiriyah, dan Samaniyah.

Kemudian perang Aceh selama 30 tahun (1873-1903), Tengku Umar, Panglima Polim, Tengku Cik Di Tiro, Cut Nyak Dhin yang selalu didampingi ulama terekat Naqsyabandiyah, Samaniyah dan Qadiriyah.

Selanjutnya ialah perang Diponegoro tahun 1825-1830 dipimpin oleh Pangeran Diponegoro pengamal tarekat Syatariyah yang penasehat utamanya juga orang tarekat yakni Kiyai Mojo dan Sentot Alibasyah. Pemberontakan Cilegon – Banten 1888 selama satu tahun dipimpin oleh Kiyai Haji Marzuqi putera menantu Kiyai Haji Asnawi Khalifah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, pengganti Syekh Abdul Karim, Khalifah TQN pertama di Banten.

Atas bukti-bukti tersebut, maka pemerintah penjajah Belanda memandang tarekat sebagai musuh besar yang sangat ditakuti dan harus dikikis habis. Berikut empat langkah strategi pengikis habisan tarekat di Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda, sebagai berikut:

1. Ulama-ulama yang mengajarkan dan mengamalkan tarekat dikucilkan, diisolir, atau dipersempit ruang geraknya. Diusahakan agar masyarakat luas menolak kehadiran mereka, membenci dan kalau bisa mengusir dari tempat tinggalnya.

2. Membujuk ulama-ulama lainnya yang berbeda paham dan kurang pengetahuannya tentang tarekat dan tasawuf agar secara terus menerus menyatakan dan mengumumkan kepada warga masyarakat di lingkungannya bahwa ajaran tarekat itu adalah ajaran yang menyimpang / bid’ah, dan dapat membahayakan kejiwaan mereka yang mengamalkannya (bisa menjadi tidak normal tingkah lakunya).

3. Melakukan penangkapan terhadap para ulama yang memimpin pesantren atayu madrasah apabila ditemukan tanda-tanda maupun bukti-bukti bahwa di pesantren itu diajarkan tentang ilmu tarekat. Dalih yang digunakan oleh polisi Belanda untuk penangkapan adalah mempersiapkan pemberontakan melawan pemerintahan kolonial, atau meresahkan masyarakat.

4. Melarang aparat kolonial Belanda di daerah mempelajari terlebih lagi mengamalkan tarekat. Pelanggaran terhadap hal ini dikenakan sanksi yang cukup berat.

Strategi yang dilakukan untuk mengikis habis tarekat menurut para pakar pelaksanaan strategi Belanda menunjukkan hasil yang baik. Buktinya antara lain sebagai berikut;

Pertama, pelajaran tentang tarekat terlebih lagi dengan cara-cara pengamalannya semakin berkurang bahkan sama sekali dianggap tidak perlu diajarkan baik di sebagian pesantren tradisional terlebih lagi di madrasah.

Kedua, para ulama pengamal tarekat terutama pengajar tarekat semakin terdesak dan banyak yang menyingkir ke pelosok-pelosok yang sangat jauh dari kota-kota besar (yang sekaligus merupakan pusat-pusat pemerintah kolonial Belanda) untuk menghindari penangkapan semena-mena.

Pada awal abad ke XX masyarakat awam yang sebagian besar umat Islam sudah banyak yang buta terhadap tarekat dan tasawuf bahkan sebagian sudah tidak peduli, banyak yang membenci dan melecehkan. Unang menilai dampak dari situasi dan kondisi yang dimulai pada awal abad ke XX ini masih terasa hingga menjelang abad XXI.

Rekomendasi
Komentar
Loading...