Era Ekonomi Islam, Kesejahteraan dan Keadilan Sosial

Jakarta – Setelah Perang Dunia (PD) II, dunia terbelah menjadi 2 ideologi yang menjadi dasar ekonomi dan politik. Ideologi Kapitalisme-Individualisme di barat dan Ideologi Sosialisme-Komunisme di timur.

Rektor United Nations University (UNU) Prof Soedjatmoko pada dekade tahun 80-an mengatakan jika 2 ideologi besar itu sudah berada di ujung tanduk. Ideologi Sosialisme-Komunisme kini bahkan sudah runtuh. Sedangkan Kapitalisme-Individualisme sedang terseok-seok, karena terjabak mengembangkan ekonomi yang sifatnya menggelembung (bubble) dengan ekonomi derivatifnya.

Bicara ekonomi ada sisi komersial dan sosialnya. Ekonomi komersial berjalan sesuai dengan mekanisme pasar. Seseorang bisa menjadi sangat kreatif dengan dukungan iptek, dan membesar dengan dukungan kapital atau modal. Akibatnya orang yang memiliki kapital bisa menguasai iptek dan pasar. Hanya segelintir orang yang berada di kelompok atas yang mampu bersaing.

Piramida sosial membagi masyarakat menjadi 3 kelas; kelas atas, menengah dan bawah. Jika ekonomi komersial dibiarkan tanpa kendali maka kelompok sosial yang berada di paling bawah menjadi yang tidak berdaya. Kelompok ini coba diatasi oleh negara-negara Sosialis-Komunis dengan konsep koperasi, ekonomi terpimpin, negara kesejahteraan. Sedangkan di Barat salah satunya dengan sistem jaminan sosial.

Ideologi Sosialisme-Komunisme telah runtuh dan Kapitalisme Individualisme sedang di ujung tanduk. Dunia kini berharap ada ideologi alternatif yang mampu memberikan kesejahteraan sekaligus keadilan sosial. Inilah era Ekonomi Islam!.

Islam selain menganut mekanisme pasar bebas, mengenal kepemilikan individual, tidak melarang orang menjadi kaya, juga menekankan tanggung jawab sosial. Islam telah menyiapkan dua instrumen atau mekanisme pokok untuk menjaga keadilan sosial tetap terjaga, yaitu dengan konsep zakat dan wakaf.

Zakat untuk menyelesaikan masalah kuratif agar masyarakat (mustahik) bisa keluar dari keterpurukan. Sedangkan untuk kelompok masyarakat yang masih sehat, kuat, dan tidak masuk dalam golongan mustahik diperlukan tindakan promotif dengan wakaf. Wakaf membuat kelompok ini bisa lebih cepat berkembang secara bersama-sama.

Gairah memperdalam ekonomi Islam tidak hanya terjadi di negeri-negeri muslim, melainkan juga di negeri-negeri non muslim seperti Inggris. Inggris dulu banyak menghasilkan pemikir-pemikir ekonomi kapitalis dan marxis, kini Inggris juga banyak menjadit tempat kajian-kajian tentang ekonomi Islam secara agresif.

KH. Wahfiudin Sakam, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya, Pembina LAZNASDPF.

Rekomendasi
Komentar
Loading...