Esensi Kemerdekaan

Dalam definisi yang dikeluarkan oleh Wikipedia, Kemerdekaan (kata benda) mempunyai arti suatu kondisi dimana seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak tergantung pada orang lain lagi.

Sedangkan menurut Nadirsyah Husein (Ulama Muda NU) bila kemerdekaan itu didefinisikan sebagai sebuah kata kerja, maka itu berarti tidak ada kata selesai dalam bekerja untuk menjadikan kita merdeka.

Dari dua definisi di atas, dapat dibuat satu definisi yang menjelaskan arti dari kemerdekaan itu. Yaitu sebuah kondisi kebebasan mengendalikan diri terlepas dari ketergantungan dan kondisi tersebut akan senantiasa terus kita upayakan sepanjang waktu agar kita betul-betul bisa merasakan kemerdekaan itu.

Pada zaman ketika masih ada perbudakan, kebebasan atau kemerdekaan adalah sebuah barang mahal yang sangat diidam-idamkan oleh para budak. Mereka harus menebus diri mereka sendiri dengan harga yang tidak sedikit bila ingin merdeka.

Sahabat Rasulullah yakni Bilal bin Rabah adalah bekas seorang budak yang kemudian dibebaskan oleh sahabat Abu Bakar as Shidiq seharga 9 uqiyah emas, harga yang cukup mahal waktu itu. Namun demi menolong sahabat yang beriman seperti Bilal, Abu Bakar ra tidak sungkan untuk menolongnya.

Itulah sekelumit tentang perjuangan mendapatkan sebuah kemerdekaan/kebebasan pada masa-masa perbudakan zaman dahulu.

Dalam dunia Tasawuf, makna kemerdekaan bukan hanya ketika kita berbicara tentang pembelengguan fisik karena sistem perbudakan. Namun lebih dari itu, bahwa yang disebut kemerdekaan atau kebebasan adalah ketika sesorang terbebas dari belenggu ego ke-aku-an dan terbebas pula dari belenggu hawa nafsu yang mengajak dirinya ke dalam perilaku kemaksiatan.

Artinya kemerdekaan dalam definisi Tasawuf adalah kemerdekaan dalam definisi kata kerja yang berarti sebuah kebebasan yang akan terus diperjuangkan sepanjang waktu. Karena perjuangan mengendalikan hawa nafsu adalah perjuangan hingga akhir hayat.

Kemerdekaan adalah idaman semua manusia. Bagaimana dia bisa bebas mengatur dirinya sendiri tanpa ada intervensi dari siapapun.

Bagi orang awam tentu kebebasan seperti ini akan sangat beresiko bagi perkembangan ruhani dan spiritualnya. Karena tidak ada filter yang  bisa mencegah masuknya pemahaman-pemahaman dan prinsip hidup yang bisa jadi melenceng dari ajaran agama.

Sedangkan bagi Ikhwan thariqah, tentunya kebebasan dan kemerdekaan ini adalah kemerdekaan/kebebasan yang tetap memiliki batas.

Dimana batas itu adalah nilai-nilai serta norma-norma ketuhanan sebagai hasil dari munculnya sikap IHSAN dalam diri Ikhwan. Sebuah sikap yang muncul sebab hasil dari riyadhah dzikir yang telah ditanamkan langsung oleh mursyid kamil mukamil.

Dan momentum Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini bisa menjadi lecutan bagi para Ikhwan untuk terus dalam perjuangan memperbaiki diri dan juga sekaligus memperbaiki masyarakat. Dan ini sebagai wujud hidmah kita kepada guru mursyid kita, Pangersa Abah Anom ra.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...