Fasilitasi Kebangkitan Lombok dengan Membangkitkan Daya Hidup Penyintas (1/2)

Ditulis oleh Drs. Asep Haerul Gani, ikhwan TQN Pontren Suryalaya yang menekuni dunia psikologi. Selama 2 hari (11/9 sd 12/9) ia berada di Lombok berbagi kisah penanganan korban bencana untuk para penyintas. 


Selasa, 11 September 2018

Selasa sore usai memandu Workshop Dai Tanggap Bencana di Masjid Dewan Dakwah Islamiyah Mataram, Kijang Inova putih sudah parkir di depan masjid. Ustadz Aziz , Direktur Pendidikan Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) bersama Ustadz Muchib, Ustadz Eko, Ustadz Fathoni, Fitri relawan Seribu Senyum (SS) dan Zul relawan mandiri dusun Suka Damai, menyambut dan membawa saya ke Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.

Perjalanan sekitar 111 km melewati jalur pintas Gunungsari itu ditempuh dalam waktu 2,5 jam.

Usai shalat maghrib di hunian sementara Pak Rum yang dijadikan Posko SS SAIM, Ustadz Aziz mengingatkan tim, “Kita ingin masyarakat Suka Damai ini berdaya, sehingga bantuan yang diberikan mempercepat hasrat mereka untuk bangkit bahkan lebih baik dari sebelumnya”. Di mushola darurat berbentuk tenda dari terpal dengan menggunakan alas, lantai mushola lama yang dindingnya sudah dibongkar, tim SS SAIM sarasehan dengan 20 Kepala Keluarga di RT 03 Dusun Suka Damai. Sarasehan ini dihadiri oleh Sekretaris Desa Santong. Ia menyatakan, “Kami atas nama warga mengucapkan terima kasih kepada SS yang telah memberikan ragam bantuan hingga sekarang”.

Dari urun rembug warga diketahui kebutuhan paling banyak dari warga adalah membangun brumah hunian yang dapat digunakan hingga 3 tahun ke depan, sementara mereka mengumpulkan biaya untuk membangun kembali rumah yang sudah hancur. Ada 2 warga yang berkata, “kami masih memerlukan bantuan pangan, karena kami belum memiliki uang, kami tak punya pekerjaan pasti,” ungkap mereka.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...