Guru Adalah Akselerator Pembelajaran

Wahana pengabdian guru saat ini dan ke depan semakin rumit. Tantangan kinerja guru semakin problematik. Khususnya guru
tingkat dasar, yaitu lapis sekolah dasar atau madrasah ibtidaiayah sebagai lapis transendental yang berjuluk elementary school, bahkan hingga high school.

Rumit, terutama jika kondisi objektif persekolahan itu dikaitkan dengan tantangan kontemporer guru mempersiapkan generasi masa depan. Sosok pendidik berkarakter sangat vital. Perannya sangat determinan guna menyongsong era industri yang syarat dengan kehidupan digital.

Namun demikian, mempersiapkan generasi masa depan tidak akan memadai manakala tidak dibubuhi inteligensi, aksi dan bakti guru sebagai pendidik yang kredibel dan kapabel.

Tantangannya, apakah persiapan yang dilakukan untuk menyongsong masa depan berkeunggulan sudah konstruktif? Peran pendidik seperti apa yang diperlukan untuk mempersiapkan generasi masa depan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi?

Bicara kompetensi guru, ada 4 isu utama agar pendidik menjadi akselerator pembelajaran.

Pertama, guru sebagai pengajar dan pendidik yang efektif. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan; transfer of knowledge, conduct and construct goodness student personality, dan set up strategi pembelajaran dan pendidikan yang aktual dan mutakhir.

Fokus transfer of knowledge. Langkah kerjanya ialah optimalisasi learning dan
teaching yang menjadi faktor pertama dan utama. Asumsinya, anak adalah “botol kosong, isi dengan air gula supaya bisa tertawa” dan besok menjadi sumber daya berharga. Kontennya adalah value, knowledge, dan skill manajerial.

Permendiknas Nomor 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Minimal Pendidikan Dasar dan Menengah mengamanatkan konten value, knowledge, dan managerial skill meliputi dimensi kognitif, afektif dan psikomotor harus diperankan guru melalui Proses Belajar dan Mengajar yang tuntas maksimal.

Fokus conduct and construct goodness student personality. Langkah kerjanya
ada empat tahap: menghubungkan anak dengan sumber belajar, membantu anak menjadi subjek belajar, menyaring pengaruh lingkungan yang buruk, dan merangsang serta mengawal tumbang anak dengan arif sesuai minat serta bakatnya. Poin ini merupakan langkah kerja yang diperankan guru untuk membimbing serta menuntun anak menjadi pelajar yang berkepribadian, siswa yang berkarakter dan manusia yang berbudi mulia.

Fokus set up strategi pembelajaran dan pendidikan yang aktual. Langkah kerjanya menerapkan tiga konsep pembelajaran yang bernas, yaitu pembelajaran partisipatif (participatory learning), pembelajaran bermakna (meaningful learning) dan pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning) secara berdaya guna dan berhasil guna sehingga hasilnya memuaskan.

Kedua, membentuk karakter dan sikap mental (attitude) anak. Guru perlu mengambil peranan yang bersifat intervensi, sebagai leader dan sebagai central model.

Falsafah guru sebagai leader adalah peribahasa “Guru digugu, guru ditiru.” Sementara falsafah central model adalah peribahasa “Guru Ratu Wong Atuwo Karo, dan Tut Wuri Handayani”.

Ketiga, pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik anak. Hasil keluaran pendidikan diharapkan abadi sepanjang zaman. Luarannya yaitu takwa, cerdas, dan terampil. Luaran berbanding lurus dengan konten pendidikan dan pengajaran berbasis value, knowledge, dan managerial skill.

Keempat, Rekayasa budaya sekolah. Ada empat pilar budaya sekolah yang utama: Learning, Character Building, Discipline, dan Value.

Prasyarat guru dalam perekayasaan budaya ada tiga, yakni guru seyogyanya visioner dan futuristik, inovasi dan pembaruan kompetensi, dan yang terakhir, pemberlakuan hukuman dan ganjaran (targhib wat tarhib).

Guru selaku perekayasa budaya sekolah diminta untuk selalu baru (up to date) karena kemutakhiran guru ini menjadi penciri guru yang kompatibel. Kompetensi guru abad 21 ditandai dengan media digital mendominasi proses pembelajaran.

Mugni Muhit
(Dosen STAI Al-Ma’arif Ciamis)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...