Guru Marzuki, Gurunya Ulama Betawi

Ahmad Marzuki bin Ahmad Mirshad akrab disapa dengan Guru Marzuki. Beliau dilahirkan pada malam Ahad, 16 Ramadhan 1293 H/1876 M di Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara (dulu Meester Conelis Batavia), Jakarta Timur.

Ayahnya bernama Ahmad Mershad, merupakan keturunan keempat dari Sultan Laksana Melayang, salah seorang pangeran dari Kesultanan Melayu Pattani di Muangthai Selatan.

Sementara ibunya bernama Fatimah binti Syihabuddin Maghrobi Al-Maduri, berasal dari Madura dan keturunan Maulana Ishaq Gresik, seorang khatib di masjid Al-Jami’ul Anwar Rawa Bangke (diperkirakan berdiri sejak abad ke 19).

Ketika berusia sembilan tahun, Ahmad Mershad meninggal dan Guru Marzuki kecil lalu diasuh ibunya. Pada umur 12 tahun ia mendalami Al-Qur’an kepada seorang guru ngaji bernama Haji Anwar. Menginjak usia 16 tahun ia mulai mengaji kitab kepada seorang keturunan Arab bernama Sayyid Usman bin Muhammad Banahasan yang kelak menjadi ayah tirinya.

Atas permintaan Sayyid Usman ia berangkat ke Makkah sekitar bulan Rajab atau Sya’ban 1325 H dan menetap di sana selama tujuh tahun. Di kota suci itu ia menimba ilmu dari banyak ulama terkemuka, seperti Syaikh Muhammad Ali Al-Maliki, Syaikh Mahfud at-Termasi, Syaikh Ahmad Khatib al Mingkabawi, dan masih banyak lagi ulama yang lainnya.

Guru Marzuki menguasai berbagai macam disiplin ilmu mulai dari fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadist, hingga ilmu mantiq (logika). Ia juga mendalami ilmu tasawuf dan juga memperoleh ijazah untuk menyebarkan taraket Alawiyyah dari Syaikh Muhammad Umar Syatha yang memperoleh silsilah tarekatnya dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan.

Sekembali ke tanah air, Sayyid Usman Banahasan memintanya mengajar di Masjid Jami’ul Anwar Rawabangke pada 1332 H. Seterusnya ia menggantikan Sayyid Usman mengajar hingga Sayyid Usman wafat.

Pada 1340 H Guru Marzuki pindah ke Kampung Muara (Cipingan Muara). Di sinilah ia merintis berdirinya pesantren di tanah miliknya yang cukup luas. Santri yang bermukimpun tidak banyak, kira-kira sekitar 50 orang.

Cara mengajar Guru Marzuki terbilang unik, yaitu sambil berjalan di kebun dan berburu bajing (tupai). Ke mana sang guru melangkah, ke sana pula santri mengikutinya dalam formasi kelompok. Setiap kelompok biasanya terdiri dari empat atau lima orang yang belajar kitab yang sama. Seorang diantaranya bertindak sebagai juru baca.

Sang guru akan menjelaskan bacaan murid sambil berjalan. Setiap satu kelompok selesai belajar, kelompok yang lain belajar kitab lain menyusul di belakang dan melakukan hal yang sama seperti kelompok sebelumnya.

Mengajar dengan cara duduk dilakukan hanya untuk masyarakat umum di Masjid. Meskipun demikan, para santri juga ikut bergabung di sini, malahan beberapa santri bergiliran membaca sebagian isi kitab untuk sang guru.

Para juru baca dan santri yang kelak menjadi ulama terpandang di kalangan masyarakat Betawi antara lain, KH Muhammad Amin (Kalibata), Mu`allim Thabrani Paseban (kakek dari KH Maulana Kamal Yusuf), Guru Ishak (Jatinegara) KH Abdullah Syafi`i (pendiri perguruan Asy-Syafi’iyyah), KH Thohir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyyah), KH Noer Alie (pahlawan nasional, pendiri perguruan At-Taqwa, Bekasi), KH Achmad Mursyidi (pendiri perguruan Al-Falah), KH Hasbiyallah (pendiri perguruan Al-Wathoniyah), KH Ahmad Zayadi Muhajir (pendiri perguruan Az-Ziyadah), Guru Asmat (Cakung), KH Mahmud (pendiri Yayasan Perguruan Islam Almamur/Yapima, Bekasi), KH Muchtar Thabrani (pendiri YPI Annuur, Bekasi), KH Chalid Damat (pendiri perguruan Al-Khalidiyah), dan KH Ali Syibromalisi (pendiri perguruan Darussa’adah dan mantan ketua Yayasan Baitul Mughni, Kuningan, Jakarta) dan lain-lain.

Guru Marzuki pun dijuluki sebagai “Gurunya Ulama Betawi.”

Guru Marzuki adalah salah satu tokoh penting dibalik berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta. Ketika belajar di Mekkah, ia berteman dengan KH. Hasyim Asy’ari. Guru Marzuki tertarik ketika mendengar bahwa temannya, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan NU di Jawa Timur dan diminta untuk mendirikan NU di Jakarta.

Sebelum memutuskan untuk mendirikan NU di Jakarta ada hal yang unik. Guru Marzuki memberikan syarat, jika para perempuan dan santri perempuan di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, yang dipimpin Hadhratussyaikh KH Hasyim Asy`ari tidak menutup auratnya secara benar, sesuai syariat, ia menolak pendirian dan kehadiran NU di tanah Betawi.

Ia kemudian mengutus orang kepercayaannya ke Tebu Ireng untuk melihat secara langsung. Dari hasil pengamatan orang kepercayaannya ini ia mendapatkan informasi bahwa para perempuan dan santri perempuan di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, menutup auratnya dengan benar, sesuai syariat.

Selain itu juga ia mengetahui bahwa NU memiliki pemahaman yang sama dengan Guru Marzuki dan masyarakat Betawi di bidang aqidah Islam yaitu Ahlusunnah Wal Jama’ah.

Akhirnya Guru Marzuki mendeklarasikan NU pada tahun 1928 dan ia didaulat sebagai Rais Syuriah hingga wafat pada tahun 1934 M.

Beliau wafat pada Jum’at, 25 Rajab 1352 H atau 02 November 1934 M. Guru Marzuki dimakamkan sesudah Shalat Ashar, dihadiri oleh para ulama dan lapisan masyarakat di komplek Masjid al Marzuqiyah, Jalan Masjid al Marzuqiyah Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Suatu tanda kebaikannya adalah malam jum’atnya turun hujan deras dan siangnya mendung tanpa hujan.

Sumber:

  • Buku ulama betawi (studi tentang jaringan ulama Betawi dan kontribusinya terhadap perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20)
  • Buku Parawisata Halal Potensi Wisata Religi di DKI Jakarta
Rekomendasi
Komentar
Loading...