H. Agus Salim

Indonesia kini sedang mengalami krisis para pemimpin yang dapat diteladani. Jika hanya pemimpin saja, banyak. Tapi untuk diteladani, amat sedikit. Pernah di masa lalu, Indonesia berkelimpahan pemimpin yang menjadi teladan. Pemimpian teladan dalam pandangan tasawuf ciri utamanya adalah zuhud, amanah dan/atau berani berkorban.

Redaksi TQNNews.com mengangkat kisah para pemimpin teladan ini secara berkala, tujuannya, agar dapat menjadi pelajaran dan referensi bagi kita semua dalam memilih pemimpin, baik legistlatif maupun eksekutif, terutama dalam pemilihan-pemilihan wakil rakyat. Untuk kali ini TQNNews.com mengangkat sosok H. Agus Salim.

Pria dengan ciri khas peci, kaca mata, berkumis putih melintang dan berjenggot putih ini lahir di Kota Gadang, Agam, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884. Orang mengenalnya dengan nama Haji Agus Salim. Namun nama lahirnya adalah Mashudul Haq yang artinya “pembela kebenaran”. Namanya berkibar di pentas nasional antara antara tahun 1946-1950 . Ia seperti bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari “Orang Tua Besar” (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan di tahun 1950 sampai akhirnya ia wafat di Jakarta tanggal 4 November 1954 pada usia 70 tahun tetap menjabat sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri. Berkat jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, Haji Agus Salim ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keppres nomor 657 tahun 1961.

Berdamai dengan kemelaratan dan hidup zuhud seolah telah menjadi pilihan hidupnya, padahal dengan pernah menjadi menteri luar negeri sebanyak tiga kali, bisa saja ia memiliki harta berlimpah. Itu dibuktikannya pada 4 November 1954, saat bapak pendiri bangsa tertua itu menutup mata selamanya. Tak ada warisan harta dan kemilau materi yang diwariskan kepada anak-anaknya. Ya, hidup sederhana seolah telah “dihitung” sang diplomat tua sejak jauh hari.

Ajaran zuhud ini sangat besar dipengaruhi ketika pada tahun 1906 pergi ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah, ia tidak hanya bekerja, tetapi juga berguru ke Mekkah, berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, yang masih merupakan pamannya. Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi adalah salah seorang ulama terkemuka mazhab Syafi’i di dunia Islam pada masa itu dan seorang sufi yang menjabat imam besar Masjidil Haram pertama dari non Arab. (Rzk)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...