Habib Abdullah Al Haddad Ungkap Rahasia Mengapa Telinga dan Mata Harus Dijaga

Prioritas utama seorang muslim adalah menjauhi kemaksiatan dan dosa. Karena kemaksiatan dan dosa bisa membuat qalbu seseorang kotor, berkarat bahkan noda-noda hitam menutupinya.

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ، كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ : كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sungguh apabila seorang mukmin berbuat dosa, maka akan ada noda hitam di dalam qalbunya, jika ia bertaubat, meninggalkannya serta meminta ampun maka qalbunya akan kembali putih, namun jika ia menambah (dosanya) maka akan bertambah (noda hitam), maka itulah penutup (qalbu) yang di sebutkan dalam firman Allah dalam kitab-Nya; “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi qalbu mereka.” (QS Al Muthafifin; 14). (HR. Ibnu Majah).

Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad Al Hadhrami dalam karyanya Risalah Adab Sulukil Murid menekankan bahwa setiap murid tarekat hendaknya bersungguh-sungguh menahan anggota tubuhnya dari maksiat dan dosa.

Sebelum melakukan sesuatu timbanglah masak-masak apakah yang akan dilakukannya itu bagian dari ketaatan atau tidak. Jangan sampai yang dilakukannya itu tidak berdampak baik dan bermanfaat di akhirat.

Mulai dari menjaga lisan baik secara offline dan online, menghindari dusta, ghibah, dan percakapan lain yang terlarang dan melampaui batas. Bahkan pengarang Ad Da’wah At Taammah wa At Tadzkirah Al ‘Aammah juga menganjurkan untuk meninggalkan perbuatan yang sia-sai meskipun secara hukum tidaklah haram. Karena menurut beliau, perbuatan seperti itu bisa mengeraskan qalbu dan menyianyiakan waktu.

Untuk itu, pembaharu dalam tarekat ‘Alawiyah tersebut memberi pesan agar tidak menggerakkan lisan kecuali untuk tilawah, dzikir, menasehati muslim, amar ma’ruf nahyi munkar, atau berbicara sesuatu menyangkut kebutuhan dunia yang membantunya selamat di akhirat.

Menurut ulama asal Yaman itu menilai bahwa apa yang didengar melalui pendengaran dan dilihat oleh mata akan masuk ke dalam qalbu dan memberi pengaruh. Maka kata beliau, berapa banyak sesuatu yang tidak layak didengar atau dilihat manusia yang justru berpengaruh buruk dan sulit dihilangkan.

Memang qalbu sangat cepat sekali terpengaruh oleh sesuatu yang datang padanya. Jika qalbu sudah terpengaruh (dampak dari yang dilihat dan didengarnya) maka tentu sulit menghapusnya.

Itu sebabnya dalam Al Qur’an pendengaran, penglihatan dan qalbu akan dimintai pertanggung jawaban.

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولٗا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (Al-Isra’: 36).

Inilah yang membuat Habib Abdullah bin Alawi kemudian berkata,

فليكن المريد حريصا على حفظ سمعه وبصره مجتهدا فى كف جوارحه عن الآثام والفضول

Jadilah murid yang berhasrat untuk selalu menjaga pendengaran dan penglihatannya, serta bersungguh-sungguh menjaga diri dari aneka dosa dan perbuatan yang berlebihan (tiada berfaedah).

Rekomendasi
Komentar
Loading...