Habis Kontrak Kerja, Akhirnya Teguh Jadi Pengusaha Roti

Jakarta – Menjadi pengusaha bisa lewat beragam cara, terkadang kondisi yang mendorong kita mengambil keputusan. Kisah ini dialami oleh Teguh, ikhwan TQN yang tinggal di daerah Bogor. Berikut ceritanya,


Teguh adalah Chef de Patie di sebuah hotel bintang tiga di daerah Bogor, Jawa Barat sampai akhir Juni 2017 yang lalu. Sebagai supervisor yang membawahi beberapa anak buah, bisa kerja di sebuah hotel dengan penghasilan yang lumayan, Teguh berharap bisa diangkat menjadi karyawan tetap.

Namun yang didapat adalah pemutusan kontrak kerja. Sebagai seorang kepala rumah tangga, terbayang bagaimana ia harus menghidupi keluarganya. Ke mana harus melamar kerja lagi? Bingung dan bingung yang ia rasakan.

Penggemar gowes ini mengakui kehidupannya jauh dari tuntunan agama. Saat kondisi terpuruk, tidak tau harus melangkah ke mana, ia baru ingat Tuhan. “Jujur dalam keluarga saya tidak ada ketegasan untuk mempelajari ilmu agama,” ujarnya.

Kegelisahannya diarahkan untuk mencari Tuhan karena ingin menenangkan dirinya. Mulailaih ia mencari guru agama yang dapat membimbingnya agar dapat hidup tenang kembali. Ini seperti pencarian.

“Ada salah satu teman saya yang sudah berhijrah. Padahal saya tau masa lalunya dan seberapa kelam hidupnya dulu bersama saya,” ungkapnya.

Mulailah Teguh bertanya-tanya sebab temannya bisa berhijrah. “Akhirnya saya datang ke rumahnya. Teman saya itu bikin pengajian di rumahnya setiap senin malam,” sambung ia menjelaskan.

Ternyata kata Teguh, di rumah temannya itu adalah pengajian khataman. Karena ia kagum dengan temannya yang bisa berubah total tak ada penolakan dalam dirinya. “Saya ikut dzikir, aneh kok hati menjadi tentram”.

Selama satu bulan Teguh rutin hadir pengajian di sana. Barulah ia mulai bertanya tentang dzikir dan tau jika perlu adanya talqin. “Alhamdulillah akhir 2017 saya mendapatkan talqin dzikir dari Pangersa Asep Samsurizal Hudaya. Makin mantaplah saya,” tegasnya.

Pria bernama lengkap Teguh Setya Wijaya ini diarahkan temannya untuk curhat, mengadu kepada Abah, mohon petunjuk. “Lantas saya praktekkan dan alhamdulillah ada titik terang. Teman lama saya tetiba kontak ajak saya buka pabrik roti bersama.”

Bukan hanya diberikan modal, namun teman lamanya juga membantu pemasaran.

Kehidupan yang berbeda mulai ia jalani. Kalau dulunya karyawan punya penghasilan tetap, kini pendapatan bisa naik turun. Kadang kecil, kadang besar. Usaha yang baru seumur jagung ini belum stabil, namun trend-nya bagus. “Alhamdulillah saya lebih tenang dan punya waktu untuk ibadah.”

Perubahan pada dirinya sangat disyukuri Teguh. Dulu jarang shalat kini rajin ibadah-ibadah

Januari kemarin Teguh mendapat tawaran menjadi Sous Chef Pastry di hotel bintang 5 di daerah sentul dengan gaji yang tinggi. “Gak saya ambil karena di pikiran saya takut tersita waktu di sana. Jadi susah untuk ziyarah ke Abah,” lanjut ia menceritakan.

Aneka roti yang diproduksi Teguh adalah roti tawar, roti manis isi coklat, keju, srikaya dan susu. Untuk roti manis perbulannya bisa produksi sekitar 13.000 buah/bulan. Sedangkan roti tawar baru mulai diproduksi, rata-rata 300 buah.

Pemasaran dilakukan dengan membentuk armada penjualan. Produk roti bermerek Nindya Bakery dipasarkan di beberapa SPBU daerah Bogor, Citereup, Cibinong dan Cakung. Saat ini juga sedang dikembangkan cake order. Kadang Nindya Bakery juga mendapatkan pesanan untuk pengadaan snack box study tour dan rapat-rapat.

Ayah dari Shafiya Nafhisa Rabbani ini berharap pabrik roti yang didirikan enam bulan lalu bersama temannya di daerah Banjarwaru, Ciawi ini bisa menjadi ladang dakwah bukan hanya ladang pendapatan.

Selamat, semoga hasil maksud. (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...